Hello bloggy!
Ga kerasa, ini hari ketiga, dan ternyata bisa yaaa, nulis setiap hari. Sepertinya kemaren-kemaren, saya ga bisa nulis karena ga punya tema khusus, jadi random gitu :D. Ayo-ayo, boleh sini yang mau kasih saya tema atau ngajakin join blog challenge :).
Hari ini, saya mau membahas tentang CARA MENDAPATKAN HATI SAYA (yang sepertinya sudah berhasil diambil oleh orang lain untuk selamanya, *semoga* :)).
1. Bisa Menjadi Imam Bagi Saya dan Keluarga Kami Nantinya
Bagi saya, laki-laki yang berpengetahuan baik tentang agama, akan tahu seperti imam ideal bagi keluarga kami nantinya, suami yang baik bagi saya, dan menjadi ayah teladan bagi anak-anak kami nantinya, karena dalam agama, telah dibahas dengan jelas tentang hak dan kewajiban suami :).
Laki-laki yang ilmu pengetahuan agamanya baik, kemungkinan besar juga tidak akan hanya sekedar mengetahuinya, tetapi dia juga akan melakukannya dan berusaha menjadi imam keluarga, suami bagi saya, dan ayah bagi anak-anak kami yang hebat dan mengagumkan.
Dia mengetahui akan dibawa berlayar kemana bahtera rumah tangga kami. Dia juga akan menjadi nahkoda yang mahir berlayar di lautan yang luas, walaupun ombaknya besar :).
2. Murah Hati
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, murah hati adalah suka (mudah) memberi; tidak pelit; penyayang dan pengasih; suka menolong; baik hati.
Saya ingin, suami saya kelak memiliki sifat murah hati. Dia bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang tidak seberuntung dirinya sehingga dia tidak protes jika perhatian saya sekian persen berfokus pada aktivitas sosial :).
Saya sangat suka melakukan kegiatan sosial. Misalnya, saat ini, fokus saya sekian persen ada pada mengajar anak-anak jalanan. Bersyukur, sekarang, saya memiliki seseorang yang spesial yang murah hati, sehingga dia pun juga tidak merasa saya duakan atau melihat saya sebagai seorang yang aneh, saat saya memerhatikan anak-anak yang luar biasa itu, karena dia juga merasakan bahwa berbagi adalah panggilan hati :).
3. Mendukung Saya Mencapai Cita-Cita Saya
Dalam hidup ini, sungguh masih banyak cita-cita saya yang belum tercapai. Saya ingin, suami saya dapat terus memotivasi saya, mendukung saya, sekaligus siap siaga menangkap saya dan menjadi penolong pertama saya, jika dalam perjalanannya, saya jatuh terperosok (semoga tidak, tapi harus siap-siap kan?), lalu dia juga menjadi orang pertama yang akan melatih saya untuk berjalan kembali hingga akhirnya saya dapat berlari lagi seperti sedia kala.
4. Sabar
Saya adalah seorang perempuan yang sangat sensitif, saya sangat tidak bisa dimarahi/dibentak sedikitpun. Saya sangat cengeng.
Pria yang sabar, menegur dengan penuh kasih sayang lah, yang dapat meluluhkan hati saya. Ia yang tegas sekaligus penyayang lah yang dapat mencuri hati saya.
5. Perhatian
Wanita mana sih yang ga mau diperhatikan? Lagi-lagi saya sangat bersyukur memiliki Yunaraya yang sangaaat perhatian walaupun kadang perhatiannya pakai kode-kode, atau kadang pakai ketegasan.
Dia sangaaat memperhatikan aktivitas dan pola makan saya. Menurutnya, saya ini sangaaat sibuk (tapi saya ga ngerasa sibuk, mungkin karena saya senang melakukannya, jadi saya ga merasa punya beban, saya sangat menikmati aktivitas saya yang katanya padat dan sangat bisa membuat saya sakit). Tapi, pola makan saya sangaaat buruk. Dalam sehari, saya hanya bisa makan nasi sekali atau dua kali saja. Saya hampir tidak pernah makan lebih dari itu. Itupun dengan porsi yang sedikit. Entah mengapa, saya sangaaat jarang bisa makan nasi dalam jumlah sewajarnya (cukup), saya sangat mudah merasa kenyang melihat nasi. Selapar-laparnya saya, saya hampir ga bisa makan dalam jumlah yang menunjukkan orang yang katanya sedang sangat lapar.
Keadaan itulah yang membuat Yunaraya mengkhawatirkan saya. Apalagi, dia juga mengetahui HB saya sempat hanya 9,9. Padahal orang dengan HB rendah bisa sewaktu-waktu pingsan, sesak nafas, dan sebagainya (kata dia yang mengetahui medis, kan jebolan FK, meski bukan anak pendidikan dokter :D).
Yunaraya adalah seorang yang sangat perhatian :). I love you, deaaar, terima kasih ya sudah sangat memperhatikanku, mungkin perhatianmu padaku jauh lebih besar dibanding perhatianku pada diriku sendiri (kan katamu, aku ga memperhatikan diriku sendiri :D). Terima kasih ya, sudah selalu mengingatkanku untuk melakukan berbagai kebaikan juga, selain makan teratur :*
6. Romantis
Karena saya sangat suka film romantis, wajar kan jika saya mengharapkan jika laki-laki saya memperlakukan saya semanis cerita di novel romance atau di film-film romance maupun FTV? :D
7. Bisa Melucu
Memiliki suami yang bisa 'ga serius' pasti menyenangkan :D. Dia akan membuat kita tergelak, tertawa lepas, menghilangkan stres dengan terapi tertawa gratis yang ditawarkannya, tanpa ke psikolog *ehh :D.
8. Ga Jaim
Menjadi istri dari seorang pria yang dapat dengan bangga menunjukkan kekurangan dirinya adalah hal yang luar biasa menyenangkan. Bukankah kita bersama untuk saling melengkapi kekurangan, bukan untuk unjuk kebolehan? :)
Sebenarnya, hal-hal itulah yang bisa membuat hati saya meleleh *aiiiih, es krim kali ya? :D*, tapi mau dikata apa jika hati telah memilih :).
Iya kan Yunaraya? I love youuu, meski kamu ga romantis, hahahahaha :D
Selasa, 15 April 2014
Senin, 14 April 2014
SECOND DAY: Nine Things About Myself
Hello bloggy! :D :D :D
Hari ini adalah hari kedua saya mengikuti "TEN DAY BLOG CHALLENGE". Dan topik hari ini adalah 9 HAL TENTANG DIRI SAYA :).
Hayo hayo, yang mengagumi saya, nge-fans pada saya, atau yang mulai jatuh cinta diam-diam pada saya, sini merapat :D :D :D *apaan sih*
1. I'm in Love with Everything, That's Sooooo Girlie
Mulai dari pakaian, jenis sepatu, tas, sampai warna, pilihan saya selalu jatuh pada hal yang sangaaat wanita, jaraaang banget bergaya casual deh :D. Saya suka pakaian bermotif bunga-bunga berwarna-warni.
Tas saya lebih banyak yang ala-ala wanita, bayangkan, saya hanya memiliki satu ransel, itupun ransel yang lucu, ga yang terlalu macho. Rasanya, saya ga pernah tertarik untuk membeli ransel atau carier yang harganya ga beda jauh sama koper atau trolly bag. Saya pergi ke luar kota untuk dua hari saja, bawa koper, mungkin karena sayangnya saya pada bahu saya :P. Saat kuliah pun, saya merasa lebih oke bila membawa tas printilan selain tas perempuan, daripada ransel, karena buku-buku yang saya bawa banyak + laptop.
Warna dan model sepatu saya pun sangat wanita meski saya jarang menggunakan high heels. Saya lebih nyaman menggunakan flat shoes berwarna pastel dengan hiasan pita. Bahkan kakak teman saya pun sampai pernah mengatakan 'ini nih Anugrah banget' :).
2. Saya Suka Keromantisan
Saya sangaaat suka menonton FTV atau film romantis dan membaca novel romantis yang bau-bau cinta. Maka, sangaaaaat ingin sekali saya diperlakukan dengan sangat romantis, penuh pengertian, perhatian, permakluman, dan ber-happy ending. Kadang, saat abang *haduh saya bingung ini mau menyebutnya apa disini*, tidak sesuai harapan saya, saya berpikir bahwa hidup memang tidak seindah cerita FTV, hahaha :D.
3. Saya Tidak Menyukai 'Tantangan'
Saya selalu merasa lebih baik bertindak selazimnya daripada melakukan hal yang nyentrik dan dianggap aneh oleh orang lain sehingga membutuhkan diplomasi bahwa yang nyentrik tersebut baik.
Saya ga suka tantangan itu sepertinya disebabkan oleh penanaman 'nrimo' oleh orang tua saya. Saya diajarkan/dibiasakan untuk nrimo/bersyukur atas semua yang telah saya dapat/miliki. Karena nrimo itulah saya jadi mudah merasa nyaman dan kenyamanan tersebut akhirnya sangat sulit/sayangkan untuk saya tinggalkan. Misalnya, sekarang ini saya jadi suka mikir beeerkali-kali untuk memutuskan melamar pekerjaan di perusahaan/tempat lain di luar kota, karena saya merasa sangat nyaman dan senaaang mengajar sebagai guru privat dan volunteer pengajar Save Street Child Surabaya, saya nyaman dengan pekerjaan saya walau mungkin pendapatannya ga seberapa, tapi saya melakukannya dengan senang hati dan menikmatinya :), saya takut jika bekerja di tempat lain membuat saya harus meninggalkkan mereka walau pendapatannya lebih besar...
4. Saya Ingin Mendapat Beasiswa untuk Program Magister Profesi dan Sains Psikologi
Saya sangaaat ingin mendapat beasiswa magister profesi psikologi di Indonesia dan sains psikologi di luar negeri. Kalau bayar sendiri biayanya mahaaal banget dan saya juga ingin merasakan kuliah atas hasil usaha saya sendiri (ga minta lagi ke orang tua :)).

Wish me luck, ya!
5. Saya Heboooh
Saya mudah panik, sangat heboh, dan saya hampir selalu terlalu bersemangat, termasuk dalam berbicara sehingga suara saya mencapai 7 oktav (saking melengkingnya suara saya, teman-teman sekolah saya mengatakan bahwa suara saya mencapai 7 oktav, sebelas dua belas sama suara Gita Gutawa kalau lagi nyanyi :D :D :D). Malah kata teman-teman kuliah, kalau berbicara, saya pakai pengeras suara -_____________-.
6. Saya Ingin Berpola Hidup Sehat (Lagi)
Saat kelas 2 SMA, saya sangat rajin bersepeda dan menjaga makanan, dan saat itu, berat badan saya bisa proporsional. Saya merindukannya! Sekarang rasanya panggilan kasur lebih saya dengar daripada panggilan pakaian olahraga, dan panggilan dari terang bulan coklat keju kacang, coklat, dan bakery juga lebih saya dengar daripada sayur. Huhuhuhu, meski kata sang abang dan murid-murid saya, saya gga gendut, tapi saya merasa gendut karena berat badan saya naik beberapa kilo dari berat yang saya katakan proporsionalsaat saya kelas 2 SMA itu :(.
Sungguh saya ingiiin sekali seperti dulu kelas 2 SMA, semoga bisa segera terlaksana ya, yoga dan pola makan hidup sehat :).
7. Saya Ingin Memiliki Sekolah
Memimpikan memiliki sekolah yang memanusiakan manusia (seperti sekolahnya Kak Seto) khususnya untuk kalangan menengah ke bawah telah saya impikan sejak saya masih sekolah. Kata banyak orang, hati saya sangat mudah tersentuh, saya sangat mudah merasa iba pada orang yang nasibnya tidak seberuntung saya. Saya ingin membantu mereka semua dengan membukakan lowongan pekerjaan bagi keluarga yang tidak mampu, sekaligus menyediakan rumah tinggal yang layak bagi mereka. Sedangkan anak-anak mereka dapat sekolah dengan baik (dengan fasilitas dan metode pengajaran yang sangat baik) tanpa pungutan biaya sepeser pun yang dapat/akan memberatkan/membebani mereka.
Saya ingin para keluarga miskin, termasuk anak-anaknya, bisa merasakan kelayakan dalam hidup ini.
8. Saya Ingin Membangun Masjid
Saya sangat berharap Allah memberi saya kesempatan untuk bisa membangun masjid yang indah, yang dapat digunakan oleh siapapun untuk beribadah. Saya ingin, saat saya meninggal nanti, masjid ini menjadi salah satu penolong saya di akhirat nanti. Bukankah saat meninggal, maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang mendo’akannya? :)
9. Saya sedang Berusaha Menjadi Penulis
Daaan, telah sejak lama pula, saya ingin bisa mengeluarkan buku yang 'best seller'. Seingat saya, mimpi menjadi penulis diawali dengan pujian terhadap tulisan saya saat pelajaran Bahasa Indonesia. Saya sempat melupakan cita-cita itu, hingga akhirnya muncul lagi akhir 2013 lalu, saat saya menjadi pemenang ketiga pada review book contest yang diadakan salah satu penerbit, padahal itu saya coba-coba lhooo, dan itu juga kontes tentang menulis yang saya ikuti pertama kali :).

Yaaa, itu adalah kesembilan hal mengenai diri saya :D. Hehehe, isinya lebih banyak pada keinginan ya? Yaaa, wish me luck, my dearest bloggy :*.
Hari ini adalah hari kedua saya mengikuti "TEN DAY BLOG CHALLENGE". Dan topik hari ini adalah 9 HAL TENTANG DIRI SAYA :).
Hayo hayo, yang mengagumi saya, nge-fans pada saya, atau yang mulai jatuh cinta diam-diam pada saya, sini merapat :D :D :D *apaan sih*
1. I'm in Love with Everything, That's Sooooo Girlie
Mulai dari pakaian, jenis sepatu, tas, sampai warna, pilihan saya selalu jatuh pada hal yang sangaaat wanita, jaraaang banget bergaya casual deh :D. Saya suka pakaian bermotif bunga-bunga berwarna-warni.
Tas saya lebih banyak yang ala-ala wanita, bayangkan, saya hanya memiliki satu ransel, itupun ransel yang lucu, ga yang terlalu macho. Rasanya, saya ga pernah tertarik untuk membeli ransel atau carier yang harganya ga beda jauh sama koper atau trolly bag. Saya pergi ke luar kota untuk dua hari saja, bawa koper, mungkin karena sayangnya saya pada bahu saya :P. Saat kuliah pun, saya merasa lebih oke bila membawa tas printilan selain tas perempuan, daripada ransel, karena buku-buku yang saya bawa banyak + laptop.
Warna dan model sepatu saya pun sangat wanita meski saya jarang menggunakan high heels. Saya lebih nyaman menggunakan flat shoes berwarna pastel dengan hiasan pita. Bahkan kakak teman saya pun sampai pernah mengatakan 'ini nih Anugrah banget' :).
2. Saya Suka Keromantisan
Saya sangaaat suka menonton FTV atau film romantis dan membaca novel romantis yang bau-bau cinta. Maka, sangaaaaat ingin sekali saya diperlakukan dengan sangat romantis, penuh pengertian, perhatian, permakluman, dan ber-happy ending. Kadang, saat abang *haduh saya bingung ini mau menyebutnya apa disini*, tidak sesuai harapan saya, saya berpikir bahwa hidup memang tidak seindah cerita FTV, hahaha :D.
3. Saya Tidak Menyukai 'Tantangan'
Saya selalu merasa lebih baik bertindak selazimnya daripada melakukan hal yang nyentrik dan dianggap aneh oleh orang lain sehingga membutuhkan diplomasi bahwa yang nyentrik tersebut baik.
Saya ga suka tantangan itu sepertinya disebabkan oleh penanaman 'nrimo' oleh orang tua saya. Saya diajarkan/dibiasakan untuk nrimo/bersyukur atas semua yang telah saya dapat/miliki. Karena nrimo itulah saya jadi mudah merasa nyaman dan kenyamanan tersebut akhirnya sangat sulit/sayangkan untuk saya tinggalkan. Misalnya, sekarang ini saya jadi suka mikir beeerkali-kali untuk memutuskan melamar pekerjaan di perusahaan/tempat lain di luar kota, karena saya merasa sangat nyaman dan senaaang mengajar sebagai guru privat dan volunteer pengajar Save Street Child Surabaya, saya nyaman dengan pekerjaan saya walau mungkin pendapatannya ga seberapa, tapi saya melakukannya dengan senang hati dan menikmatinya :), saya takut jika bekerja di tempat lain membuat saya harus meninggalkkan mereka walau pendapatannya lebih besar...
4. Saya Ingin Mendapat Beasiswa untuk Program Magister Profesi dan Sains Psikologi
Saya sangaaat ingin mendapat beasiswa magister profesi psikologi di Indonesia dan sains psikologi di luar negeri. Kalau bayar sendiri biayanya mahaaal banget dan saya juga ingin merasakan kuliah atas hasil usaha saya sendiri (ga minta lagi ke orang tua :)).

Wish me luck, ya!
5. Saya Heboooh
Saya mudah panik, sangat heboh, dan saya hampir selalu terlalu bersemangat, termasuk dalam berbicara sehingga suara saya mencapai 7 oktav (saking melengkingnya suara saya, teman-teman sekolah saya mengatakan bahwa suara saya mencapai 7 oktav, sebelas dua belas sama suara Gita Gutawa kalau lagi nyanyi :D :D :D). Malah kata teman-teman kuliah, kalau berbicara, saya pakai pengeras suara -_____________-.
6. Saya Ingin Berpola Hidup Sehat (Lagi)
Saat kelas 2 SMA, saya sangat rajin bersepeda dan menjaga makanan, dan saat itu, berat badan saya bisa proporsional. Saya merindukannya! Sekarang rasanya panggilan kasur lebih saya dengar daripada panggilan pakaian olahraga, dan panggilan dari terang bulan coklat keju kacang, coklat, dan bakery juga lebih saya dengar daripada sayur. Huhuhuhu, meski kata sang abang dan murid-murid saya, saya gga gendut, tapi saya merasa gendut karena berat badan saya naik beberapa kilo dari berat yang saya katakan proporsionalsaat saya kelas 2 SMA itu :(.
Sungguh saya ingiiin sekali seperti dulu kelas 2 SMA, semoga bisa segera terlaksana ya, yoga dan pola makan hidup sehat :).
7. Saya Ingin Memiliki Sekolah
Memimpikan memiliki sekolah yang memanusiakan manusia (seperti sekolahnya Kak Seto) khususnya untuk kalangan menengah ke bawah telah saya impikan sejak saya masih sekolah. Kata banyak orang, hati saya sangat mudah tersentuh, saya sangat mudah merasa iba pada orang yang nasibnya tidak seberuntung saya. Saya ingin membantu mereka semua dengan membukakan lowongan pekerjaan bagi keluarga yang tidak mampu, sekaligus menyediakan rumah tinggal yang layak bagi mereka. Sedangkan anak-anak mereka dapat sekolah dengan baik (dengan fasilitas dan metode pengajaran yang sangat baik) tanpa pungutan biaya sepeser pun yang dapat/akan memberatkan/membebani mereka.
Saya ingin para keluarga miskin, termasuk anak-anaknya, bisa merasakan kelayakan dalam hidup ini.
8. Saya Ingin Membangun Masjid
Saya sangat berharap Allah memberi saya kesempatan untuk bisa membangun masjid yang indah, yang dapat digunakan oleh siapapun untuk beribadah. Saya ingin, saat saya meninggal nanti, masjid ini menjadi salah satu penolong saya di akhirat nanti. Bukankah saat meninggal, maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang mendo’akannya? :)
9. Saya sedang Berusaha Menjadi Penulis
Daaan, telah sejak lama pula, saya ingin bisa mengeluarkan buku yang 'best seller'. Seingat saya, mimpi menjadi penulis diawali dengan pujian terhadap tulisan saya saat pelajaran Bahasa Indonesia. Saya sempat melupakan cita-cita itu, hingga akhirnya muncul lagi akhir 2013 lalu, saat saya menjadi pemenang ketiga pada review book contest yang diadakan salah satu penerbit, padahal itu saya coba-coba lhooo, dan itu juga kontes tentang menulis yang saya ikuti pertama kali :).

Yaaa, itu adalah kesembilan hal mengenai diri saya :D. Hehehe, isinya lebih banyak pada keinginan ya? Yaaa, wish me luck, my dearest bloggy :*.
Minggu, 13 April 2014
FIRST DAY: Ten Reasons I LOVE MY JOB
Hello bloggy! :)
Sesuai janji, saya yang mengikuti "TEN DAY BLOG CHALLENGE", memulai mengikuti tantangan tersebut pada hari ini. And here I am :)
Mengapa saya mencintai pekerjaan saya saat ini?
Terlebih dahulu, saya akan menyampaikan pekerjaan saya. Saya adalah seorang guru les privat bagi siswa-siwi SD dan playgroup. Murid saya ada 5 orang: 2 orang kelas VI SD, 1 orang kelas V SD, 1 orang kelas I SD, dan 1 orang playgroup B. Mengajar playgroup ini masih dalam tahap uji coba karena seingat saya, saya tidak pernah bermimpi/membayangkan mengajar playgroup. Kalau punya playgroup (sebenarnya TK), saya pernah membayangkan dan memimpikannya. Sampai sekarang pun, saya masih memimpikan memiliki sekolah dari tingkat TK (sekarang jadi kepingin punya sekolah dari tingkat playgroup deh, tingkat paling dasar :)) hingga tingkat SMA. Dimana, sekolah tersebut saya terbuka lebar bagi para golongan menengah ke bawah. Saya ingin sekali memiliki sekolah yang tidak berorientasi pada keuntungan/profit. Saya mendirikan sekolah tersebut, semata-mata untuk membantu siapapun untuk dapat mengenyam pendidikan dengan layak, (baik fasilitas maupun metode pengajaran yang memanusiakan mereka), tanpa dibebani biaya yang dapat menyebabkannya putus sekolah. Saya hanya membutuhkan semangat tinggi mereka untuk belajar, untuk memutus rantai kebodohan dalam keluarganya, untuk membuatnya berpikiran maju sehingga dapat mengangkat derajat keluarganya dan negaranya :) *serius amat yak? :) Surely, that's in my mind :) Saya ingin semua anak di Indonesia mendapatkan itu, saya teramat sangat tidak sampai hati melihat mereka bekerja meski upah rendah, mereka tetap terpaksa memutuskan sekolahnya demi mereka bisa bertahan hidup di esok hari. Bahkan rasanya, saya rela menghidupi keluarga mereka, asal dia mau belajar. Jadi, 'cukuplah kamu belajar dengan baik, Nak, saya akan menanggung ekonomi keluargamu, sehingga kamu tidak perlu memikirkan bagaimana besok kamu dapat bertahan hidup'*.
Oke, kembali ke topik semula yaaa *teteup masih ngobrol ngalur-ngidul kalau nge-blog :D*. Mengapa saya mencintai pekerjaan saya menjadi guru les privat? *menjadi volunteer pengajar Save Street Child Surabaya, boleh dimasukkan sebagai pekerjaan saya kan? :)*
1. Mengajar itu Menyenangkan
Bagi saya, mengajar itu penuh dengan seni. Seni dalam memahamkan mereka. Bersama mereka, saya juga merasa sebagai sahabat/teman curhat mereka. Bahkan kadang juga tempat curhat orang tua atau ART nya lhooo :). Menyenangkan sekali saat hubungan tidak lagi sebatas guru/tutor dan murid, tapi serasa diajak masuk menjadi bagian dari keluarga mereka, misalnya dengan dipercayanya sebagai teman untuk mendengar (dan akhirnya membuat saya belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Karena menurut teman-teman saya, saya selalu memotong pembicaraan, jika ditengah obrolan, ada hal yang muncul dipikiran saya. Kata mereka, saya selalu bersemangat hingga akhirnya merusak kenyamanan obrolan. Sekarang, ga mungkin kan saya memotong pembicaraan meski ada sesuatu yang muncul di pikiran saya? setidaknya, saya dapat menyampaikan pikiran saya yang muncul tersebut setelah mereka selesai berbicara *bener-bener belajar ini, nahan buat ga nyelat itu susah! (tapi patut dicoba dan dilatih :))*).
2. Mengajar Membuat Saya Mengingat Berbagai Hal tentang Indonesia
Ternyata sistem pemerintahan Indonesia telah dikupas habis di pelajaran PKN kelas IV SD lho. Saya yang ga ngerti tentang pemerintahan Indonesia, yang meliputi MPR, DPR, DPD, daaaaaan teman-temannya itu, jadi terpaksa belajar (dan tetep masih ga bener-bener paham, hahaha :D, mungkin karena saya memang terlanjur ilfil dengan pemerintahan Indonesia yang selalu mbulet dan sudah mainstream banget sama korupsi, ya meskipun ga semuanya).
Tapi ternyata, belajar tentang sistem pemerintah pusat membuat saya berusaha semampu saya mewujudkan Indonesia yang lebih baik, agar Indonesia bisa sekeren negara-negara lain yang telah maju terlebih dahulu. Biarlah sistem pemerintahan Indonesia yang mbulet itu, menjadi urusan mahasiswa Ilmu Politik, dan serumpunnya, saya mau membantu orang-orang pemerintahan yang serius berusaha memajukan daerahnya. Misalnya, yang serius ingin 'mengangkat' kehidupan anak jalanan :).
3. Mengajar Membuat Saya Mengingat Berbagai Hal tentang Alam
Saya rasanya sudah lupa bahwa saya hidup di negara yang kata traveller surganya dunia. Alamnya luar biasa indah, potensi sumber daya alamnya sangat luar biasa, dan hal keluarbiasaan penampakan alam Indonesia. Mengapa saya bisa lupa? Karena saya bukan anak pecinta alam, yang suka ndaki-ndaki gunung, dan aksi lain untuk membuktikan kata-kata wisatawan dan traveller. Selain itu, rasanya acara jalan-jalan di televisi Indonesia cuma ada di weekend. Lha apa ga useless itu ngasih rekomendasi liburan di weekend? Menurut saya, sebaiknya di weekdays sehingga saat weekend, kita sudah reservasi dan siap berangkat untuk membuktikan rekomendasi acara TV itu, bisa diulang ga :).
Acara TV di Indonesia saat weekdays kebanyakan mbahas kriminal, politik, demo, dan hal negatif dan menjemukan lainnya. Jadi rasanya, saya sudah agak lupa kalau Indonesia sungguh indah dan surga dunia :).
Buat pengunjung blog saya, yang mungkin seorang dari pertelevisian, bolehkah saya usul? Bagaimana kalau untuk meningkatkan rating acara stasiun televisi Anda, Anda lebih cerdas menayangkan acara? yang membawa dampak positif dan harapan untuk kemajuan Indonesia gitu lhooo, masa ikut-ikutan/lomba mbahas-mbahas keburukan negeri ini. Indonesia itu sebenernya keburukannya cuma sedikit lho (setidaknya masih buanyaaaaak hal positif/kelebihan yang bisa diangkat dan menimbulkan keyakinan pada masyarakat Indonesia bahwa Indonesiaku luar biasa dan aku bangga menjadi warga negara Indonesia!) :).
4. Mengajar Mereka Membuat Saya Bersyukur
Mengajar anak-anak jalanan di Save Street Child Surabaya, membuat saya bersyukur. Sungguh hidup saya selama ini sangat nyaman. Bisa belajar di sekolah yang bagus dan seharusnya bisa membuuat saya konsentrasi dan berprestasi karena orang tua saya selalu mengatakan 'pokoknya konsentrasi belajar yang tekun, rajin, biar pinter'. Adek-adek yang ga seberuntung saya hanya mendapat kalimat 'pokoknya dapat uang biar bisa makan' dari orang tuanya. Ga tegaaaaaa... Menafkahi keluarga kan tanggung jawab orang tua, anak di bawah umur kan tugansnya belajar dan bermain? :(
Bersama mereka pun menyadarkan saya bahwa bahagia itu tidak perlu mahal. Berbagi kebahagiaan, ilmu, dan rezeki dengan mereka itu sungguh membahagiakan. Dengan bahagia, tubuh menjadi sehat dan terlihat awet muda (karena hati riang gembira).
5. Mengajar Membuat Saya Merasakan Langsung Toleransi Umat Beragama
Toleransi antar umat beragama telah sejak lama saya dapatkan di sekolah. Saya pun juga memiliki tetangga yang bukan Islam dan mereka sangat baik. Tapi, baru kali ini saya merasa 'nyes'. Yaitu, saat murid saya mengingatkan saya untuk shalat. Murid saya ada lima orang -empat nasrani dan seorang muslim. Dari awal, orang tuanya pun telah mengatakan bahwa mereka mempersilahkan saya untuk shalat jika waktu belajar anak-anaknya bersamaan dengan waktu shalat.
Murid-murid saya juga dengan senang menyampaikan/menanyakan apa yang dia pikirkan tentang Islam, termasuk tentang kerudung, yang kata mereka kerudung sekarang aneh-aneh, masa dikasih bunga-bunga dikepala, malah kelihatan seperti sarang lebah kata mereka. Dan masih banyak obrolan-obrolan kami tentang perbedaan agama dan kami masih bisa saling menghargai keyakinan kami masing-masing :).
6. Mengajar Membuat Saya Belajar Menghargai Waktu
Murid saya memang kebanyakan China, dan saya sungguh salut pada manajemen waktu mereka. Bayangkan, satu jam sepulang dari sekolah, dia les. Saya mikir, apa ga jenuh itu otaknya ya? Saya akui, kadang mereka jenuh sehingga meminta saya untuk belajar di halaman rumah. Tapi, ternyata mereka bilang bahwa jika tidak les, mereka merasa ada yang kurang, dan mereka ga keberatan les siang karena sore hingga malam hari, jadwal mengajar saya sudah penuh. Sebenarnya, murid-murid saya tidak ada yang tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah, sehingga menurut saya mereka menjadikan les sebagai life style/gaya hidup.
Merekalah yang mengajarkan saya untuk disiplin waktu dan menggunakan waktu dengan hal-hal positif. Sudah pinter aja masih les... Ini mengena sekali pada saya. Seharusnya, saya dapat memanfaatkan waktu pagi hingga siang hari saya untuk menulis, mencari pekerjaan, atau belajar, belajar apapun, baik tentang psikologi maupun Bahasa Inggris (terutama TOEFL) untuk persiapan program magister.
7. Mengajar Membuat Saya Belajar Kreatif
Mengajar anak-anak kecil tentu membutuhkan 1001 cara untuk dapat menarik perhatian mereka pada pelajaran. Naaah, maka dari itu, saya berusaha membuat perintilan mengajar yang warna-warni. Selama ini, saya sebenarnya tidak memiliki ide baru terhadap mengajar, saya hanya sedikit 'merenovasi' yang telah ada. Saya sangat terbantu dengan portal ruang belajar -Indonesia Mengajar. Terima kasih Yayasan Indonesia Mengajar, semoga suatu saat, saya bisa menjadi bagian dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, aamiin *ehh* :).
8. Mengajar Membuat Saya Belajar Mandiri
Sudah bukan rahasia lagi jika saya seorang yang manja. Tapi, hal itu, sedikit demi sedikit mulai berkurang, saya lebih sedikit mandiri, berani ke tempat baru berbekal google maps dan tanya sana-sini sekeligus keberanian bertanya berkali-kali pada orang-orang jika tersasar :D :D :D.
Saya masih ingat, saat pertama kali mencari alamat murid baru saya saat hujan deraaas angin dan membuat motor saya beberapa kali mogok, basah kuyup pula lah baju saya meski sudah memakai jas hujan, dan saya harus beberapa kali bertanya pada orang hingga akhirnya sampai di rumahnya, DAN TERLAMBAT 30 MENIT!
Biasanya, sebelum saya mengajar dipertemuan pertama, saya telah mencari alamatnya terlebih dahulu sehingga saat pertemuan pertama dan berikutnya, saya tidak terlambat. Tapi ini bedaaa. Saya mendapat murid baru itu pagi agak siang hari dan niat saya, akan menyurvei rumahnya siang hari. Tapi, tiba-tiba orang tua murid saya telepon minta les dimulai 1,5 jam lebih awal, yaitu jam 14.30 *langsung kelabakan karena memberi tahunya sejam sebelum les dimulai 1,5 jam lebih awal (jam 13.30) dan saya masih belum siap-siap*. Tapi alhamdulillah, mereka memaklumi keterlambatan saya, bahkan saya jadi dapat bonus untuk mengelesi adiknya (awalnya, saya hanya mengajar kakaknya, tapi ternyata sang adik merasa cocok dengan saya, maka terpilihlah saya menjadi guru/tutornnya) :D.
Pengalaman ini UNFORGETTABLE banget! :D :D :D
Ohya, saya juga belajar mandiri, dari murid saya yang lain. Dia baru kelas V SD tapi sudah sangat mampu melakukan berbagai pekerjaan rumah, yang saya saja baru bisa melakukannya saat lulus kuliah, misalnya cuci baju manual/ga pakai mesin cuci dan membersihkan kulkas *tapi sampai sekarang saya ga pernah membersihkan kulkas*. Salut buat dia!
9. Mengajar Membuat Saya Menemukan Bakat Terpendam Saya
Mengajar membuat saya merasa bahwa mengajar adalah bakat terpendam saya, hahaha :D. Duluuuuu, waktu masih kecil, saya ingin jadi guru, tapi sampai kuliah saya ga pernah ngajar. Ngajar les privat pun baru saya jalani dari Februari 2014.
Bingung?
Jelas, pertama kali, saya mati gaya, mikir, mau gimana iniii, tapi saya berusaha sok kenal sok deket kemurid saya, dan ternyata dia cocok dengan ngajar saya. Nilai-nilainya naik membaik. Bahkan ibunya, menyampaikan langsung rasa terima kasihnya pada pihak LBB karena telah memilihkan saya sebagai guru/tutor anak-anak mereka. Ibu tersebut juga SMS saya menyampaikan ucapan terima kasihnya. Alhamdulillaaaaah :).

Murid saya juga ga percaya kalau saya sebelumnya belum pernah mengajar. Dia bilang kalau cara mengajar saya enak. Saya juga bersikukuh tetap mengajarinya hingga dia bisa, walaupun waktu les yang hanya 1,5 jam telah berakhir, dan dia suka, karena mereka jadi mau ga mau bener-bener paham agar saya segera meninggalkan rumahnya :D. Saya 'ngotot' karena saya merasa punya tanggung jawab untuk mengajarinya. Masa iya, saya terima uang dari orang tuanya, tapi tanpa ada peningkatan prestasi/nilai akademis? Sama seperti makan gaji buta dong? :D
NB: Poin nomor 9 ini bukan promo lho yaaa :D :D :P
10. Mengajar Mendekatkan Saya pada Kasus Psikologis
Dalam mengajar, tentu saya menemui karakter-karakter unik pada murid saya. Ada yang kalau belajar maunya dibacakan (jadi saya semacam mendongeng pelajaran gitu, untung mereka ga tidur :D) sambil jalan-jalan, muter-muter dalam rumah (karena dia seorang auditori-kinestetik), ada yang takut duluan sebelum ulangan matematika, dan sebagainya.
Sebagai seorang calon psikolog *:D*, saya juga berusaha memberi treatment-treatment yang tepat untuknya. Misalnya, saat les, saya memberi puzzle matematika yang bertuliskan I ❤ MATH dan diakhir les, berkali-kali, saya menyampaikan padanya bahwa matematika sama menyenangkannya dengan Bahasa Inggris (dia menyukai Bahasa Inggris).
Dan alhamdulillah, setelah beberapa kali pertemuan, nilai matematinya berada jauh di atas KKM :).
Tiada yang lebih membahagiakan bagi seorang guru, saat muridnya mencapai beberapa tingkat di atas dari posisi awal dia berada :).
Dengan menemui kasus-kasus psikologis walaupun yang sederhana, saya yakin dapat membantu saya berlatih menjadi psikolog keren suatu saat, psikolog yang dapat membantu sesama dan bermanfaat untuk sesama, aamiin :)
Itulah kesepuluh alasan saya mencintai pekerjaan saya saat ini. Maka, sampai saat membuat posting ini, rasanya beraaat sekali jika suatu saat, saya harus berhenti untuk mengajar, baik mengajar les privat maupun mengajar sebagai volunteer di Save Street Child Surabaya.
Teaching is a part of my soul :)
Sesuai janji, saya yang mengikuti "TEN DAY BLOG CHALLENGE", memulai mengikuti tantangan tersebut pada hari ini. And here I am :)
Mengapa saya mencintai pekerjaan saya saat ini?
Terlebih dahulu, saya akan menyampaikan pekerjaan saya. Saya adalah seorang guru les privat bagi siswa-siwi SD dan playgroup. Murid saya ada 5 orang: 2 orang kelas VI SD, 1 orang kelas V SD, 1 orang kelas I SD, dan 1 orang playgroup B. Mengajar playgroup ini masih dalam tahap uji coba karena seingat saya, saya tidak pernah bermimpi/membayangkan mengajar playgroup. Kalau punya playgroup (sebenarnya TK), saya pernah membayangkan dan memimpikannya. Sampai sekarang pun, saya masih memimpikan memiliki sekolah dari tingkat TK (sekarang jadi kepingin punya sekolah dari tingkat playgroup deh, tingkat paling dasar :)) hingga tingkat SMA. Dimana, sekolah tersebut saya terbuka lebar bagi para golongan menengah ke bawah. Saya ingin sekali memiliki sekolah yang tidak berorientasi pada keuntungan/profit. Saya mendirikan sekolah tersebut, semata-mata untuk membantu siapapun untuk dapat mengenyam pendidikan dengan layak, (baik fasilitas maupun metode pengajaran yang memanusiakan mereka), tanpa dibebani biaya yang dapat menyebabkannya putus sekolah. Saya hanya membutuhkan semangat tinggi mereka untuk belajar, untuk memutus rantai kebodohan dalam keluarganya, untuk membuatnya berpikiran maju sehingga dapat mengangkat derajat keluarganya dan negaranya :) *serius amat yak? :) Surely, that's in my mind :) Saya ingin semua anak di Indonesia mendapatkan itu, saya teramat sangat tidak sampai hati melihat mereka bekerja meski upah rendah, mereka tetap terpaksa memutuskan sekolahnya demi mereka bisa bertahan hidup di esok hari. Bahkan rasanya, saya rela menghidupi keluarga mereka, asal dia mau belajar. Jadi, 'cukuplah kamu belajar dengan baik, Nak, saya akan menanggung ekonomi keluargamu, sehingga kamu tidak perlu memikirkan bagaimana besok kamu dapat bertahan hidup'*.
Oke, kembali ke topik semula yaaa *teteup masih ngobrol ngalur-ngidul kalau nge-blog :D*. Mengapa saya mencintai pekerjaan saya menjadi guru les privat? *menjadi volunteer pengajar Save Street Child Surabaya, boleh dimasukkan sebagai pekerjaan saya kan? :)*
1. Mengajar itu Menyenangkan
Bagi saya, mengajar itu penuh dengan seni. Seni dalam memahamkan mereka. Bersama mereka, saya juga merasa sebagai sahabat/teman curhat mereka. Bahkan kadang juga tempat curhat orang tua atau ART nya lhooo :). Menyenangkan sekali saat hubungan tidak lagi sebatas guru/tutor dan murid, tapi serasa diajak masuk menjadi bagian dari keluarga mereka, misalnya dengan dipercayanya sebagai teman untuk mendengar (dan akhirnya membuat saya belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Karena menurut teman-teman saya, saya selalu memotong pembicaraan, jika ditengah obrolan, ada hal yang muncul dipikiran saya. Kata mereka, saya selalu bersemangat hingga akhirnya merusak kenyamanan obrolan. Sekarang, ga mungkin kan saya memotong pembicaraan meski ada sesuatu yang muncul di pikiran saya? setidaknya, saya dapat menyampaikan pikiran saya yang muncul tersebut setelah mereka selesai berbicara *bener-bener belajar ini, nahan buat ga nyelat itu susah! (tapi patut dicoba dan dilatih :))*).
2. Mengajar Membuat Saya Mengingat Berbagai Hal tentang Indonesia
Ternyata sistem pemerintahan Indonesia telah dikupas habis di pelajaran PKN kelas IV SD lho. Saya yang ga ngerti tentang pemerintahan Indonesia, yang meliputi MPR, DPR, DPD, daaaaaan teman-temannya itu, jadi terpaksa belajar (dan tetep masih ga bener-bener paham, hahaha :D, mungkin karena saya memang terlanjur ilfil dengan pemerintahan Indonesia yang selalu mbulet dan sudah mainstream banget sama korupsi, ya meskipun ga semuanya).
Tapi ternyata, belajar tentang sistem pemerintah pusat membuat saya berusaha semampu saya mewujudkan Indonesia yang lebih baik, agar Indonesia bisa sekeren negara-negara lain yang telah maju terlebih dahulu. Biarlah sistem pemerintahan Indonesia yang mbulet itu, menjadi urusan mahasiswa Ilmu Politik, dan serumpunnya, saya mau membantu orang-orang pemerintahan yang serius berusaha memajukan daerahnya. Misalnya, yang serius ingin 'mengangkat' kehidupan anak jalanan :).
3. Mengajar Membuat Saya Mengingat Berbagai Hal tentang Alam
Saya rasanya sudah lupa bahwa saya hidup di negara yang kata traveller surganya dunia. Alamnya luar biasa indah, potensi sumber daya alamnya sangat luar biasa, dan hal keluarbiasaan penampakan alam Indonesia. Mengapa saya bisa lupa? Karena saya bukan anak pecinta alam, yang suka ndaki-ndaki gunung, dan aksi lain untuk membuktikan kata-kata wisatawan dan traveller. Selain itu, rasanya acara jalan-jalan di televisi Indonesia cuma ada di weekend. Lha apa ga useless itu ngasih rekomendasi liburan di weekend? Menurut saya, sebaiknya di weekdays sehingga saat weekend, kita sudah reservasi dan siap berangkat untuk membuktikan rekomendasi acara TV itu, bisa diulang ga :).
Acara TV di Indonesia saat weekdays kebanyakan mbahas kriminal, politik, demo, dan hal negatif dan menjemukan lainnya. Jadi rasanya, saya sudah agak lupa kalau Indonesia sungguh indah dan surga dunia :).
Buat pengunjung blog saya, yang mungkin seorang dari pertelevisian, bolehkah saya usul? Bagaimana kalau untuk meningkatkan rating acara stasiun televisi Anda, Anda lebih cerdas menayangkan acara? yang membawa dampak positif dan harapan untuk kemajuan Indonesia gitu lhooo, masa ikut-ikutan/lomba mbahas-mbahas keburukan negeri ini. Indonesia itu sebenernya keburukannya cuma sedikit lho (setidaknya masih buanyaaaaak hal positif/kelebihan yang bisa diangkat dan menimbulkan keyakinan pada masyarakat Indonesia bahwa Indonesiaku luar biasa dan aku bangga menjadi warga negara Indonesia!) :).
4. Mengajar Mereka Membuat Saya Bersyukur
Mengajar anak-anak jalanan di Save Street Child Surabaya, membuat saya bersyukur. Sungguh hidup saya selama ini sangat nyaman. Bisa belajar di sekolah yang bagus dan seharusnya bisa membuuat saya konsentrasi dan berprestasi karena orang tua saya selalu mengatakan 'pokoknya konsentrasi belajar yang tekun, rajin, biar pinter'. Adek-adek yang ga seberuntung saya hanya mendapat kalimat 'pokoknya dapat uang biar bisa makan' dari orang tuanya. Ga tegaaaaaa... Menafkahi keluarga kan tanggung jawab orang tua, anak di bawah umur kan tugansnya belajar dan bermain? :(
Bersama mereka pun menyadarkan saya bahwa bahagia itu tidak perlu mahal. Berbagi kebahagiaan, ilmu, dan rezeki dengan mereka itu sungguh membahagiakan. Dengan bahagia, tubuh menjadi sehat dan terlihat awet muda (karena hati riang gembira).
5. Mengajar Membuat Saya Merasakan Langsung Toleransi Umat Beragama
Toleransi antar umat beragama telah sejak lama saya dapatkan di sekolah. Saya pun juga memiliki tetangga yang bukan Islam dan mereka sangat baik. Tapi, baru kali ini saya merasa 'nyes'. Yaitu, saat murid saya mengingatkan saya untuk shalat. Murid saya ada lima orang -empat nasrani dan seorang muslim. Dari awal, orang tuanya pun telah mengatakan bahwa mereka mempersilahkan saya untuk shalat jika waktu belajar anak-anaknya bersamaan dengan waktu shalat.
Murid-murid saya juga dengan senang menyampaikan/menanyakan apa yang dia pikirkan tentang Islam, termasuk tentang kerudung, yang kata mereka kerudung sekarang aneh-aneh, masa dikasih bunga-bunga dikepala, malah kelihatan seperti sarang lebah kata mereka. Dan masih banyak obrolan-obrolan kami tentang perbedaan agama dan kami masih bisa saling menghargai keyakinan kami masing-masing :).
6. Mengajar Membuat Saya Belajar Menghargai Waktu
Murid saya memang kebanyakan China, dan saya sungguh salut pada manajemen waktu mereka. Bayangkan, satu jam sepulang dari sekolah, dia les. Saya mikir, apa ga jenuh itu otaknya ya? Saya akui, kadang mereka jenuh sehingga meminta saya untuk belajar di halaman rumah. Tapi, ternyata mereka bilang bahwa jika tidak les, mereka merasa ada yang kurang, dan mereka ga keberatan les siang karena sore hingga malam hari, jadwal mengajar saya sudah penuh. Sebenarnya, murid-murid saya tidak ada yang tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah, sehingga menurut saya mereka menjadikan les sebagai life style/gaya hidup.
Merekalah yang mengajarkan saya untuk disiplin waktu dan menggunakan waktu dengan hal-hal positif. Sudah pinter aja masih les... Ini mengena sekali pada saya. Seharusnya, saya dapat memanfaatkan waktu pagi hingga siang hari saya untuk menulis, mencari pekerjaan, atau belajar, belajar apapun, baik tentang psikologi maupun Bahasa Inggris (terutama TOEFL) untuk persiapan program magister.
7. Mengajar Membuat Saya Belajar Kreatif
Mengajar anak-anak kecil tentu membutuhkan 1001 cara untuk dapat menarik perhatian mereka pada pelajaran. Naaah, maka dari itu, saya berusaha membuat perintilan mengajar yang warna-warni. Selama ini, saya sebenarnya tidak memiliki ide baru terhadap mengajar, saya hanya sedikit 'merenovasi' yang telah ada. Saya sangat terbantu dengan portal ruang belajar -Indonesia Mengajar. Terima kasih Yayasan Indonesia Mengajar, semoga suatu saat, saya bisa menjadi bagian dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, aamiin *ehh* :).
8. Mengajar Membuat Saya Belajar Mandiri
Sudah bukan rahasia lagi jika saya seorang yang manja. Tapi, hal itu, sedikit demi sedikit mulai berkurang, saya lebih sedikit mandiri, berani ke tempat baru berbekal google maps dan tanya sana-sini sekeligus keberanian bertanya berkali-kali pada orang-orang jika tersasar :D :D :D.
Saya masih ingat, saat pertama kali mencari alamat murid baru saya saat hujan deraaas angin dan membuat motor saya beberapa kali mogok, basah kuyup pula lah baju saya meski sudah memakai jas hujan, dan saya harus beberapa kali bertanya pada orang hingga akhirnya sampai di rumahnya, DAN TERLAMBAT 30 MENIT!
Biasanya, sebelum saya mengajar dipertemuan pertama, saya telah mencari alamatnya terlebih dahulu sehingga saat pertemuan pertama dan berikutnya, saya tidak terlambat. Tapi ini bedaaa. Saya mendapat murid baru itu pagi agak siang hari dan niat saya, akan menyurvei rumahnya siang hari. Tapi, tiba-tiba orang tua murid saya telepon minta les dimulai 1,5 jam lebih awal, yaitu jam 14.30 *langsung kelabakan karena memberi tahunya sejam sebelum les dimulai 1,5 jam lebih awal (jam 13.30) dan saya masih belum siap-siap*. Tapi alhamdulillah, mereka memaklumi keterlambatan saya, bahkan saya jadi dapat bonus untuk mengelesi adiknya (awalnya, saya hanya mengajar kakaknya, tapi ternyata sang adik merasa cocok dengan saya, maka terpilihlah saya menjadi guru/tutornnya) :D.
Pengalaman ini UNFORGETTABLE banget! :D :D :D
Ohya, saya juga belajar mandiri, dari murid saya yang lain. Dia baru kelas V SD tapi sudah sangat mampu melakukan berbagai pekerjaan rumah, yang saya saja baru bisa melakukannya saat lulus kuliah, misalnya cuci baju manual/ga pakai mesin cuci dan membersihkan kulkas *tapi sampai sekarang saya ga pernah membersihkan kulkas*. Salut buat dia!
9. Mengajar Membuat Saya Menemukan Bakat Terpendam Saya
Mengajar membuat saya merasa bahwa mengajar adalah bakat terpendam saya, hahaha :D. Duluuuuu, waktu masih kecil, saya ingin jadi guru, tapi sampai kuliah saya ga pernah ngajar. Ngajar les privat pun baru saya jalani dari Februari 2014.
Bingung?
Jelas, pertama kali, saya mati gaya, mikir, mau gimana iniii, tapi saya berusaha sok kenal sok deket kemurid saya, dan ternyata dia cocok dengan ngajar saya. Nilai-nilainya naik membaik. Bahkan ibunya, menyampaikan langsung rasa terima kasihnya pada pihak LBB karena telah memilihkan saya sebagai guru/tutor anak-anak mereka. Ibu tersebut juga SMS saya menyampaikan ucapan terima kasihnya. Alhamdulillaaaaah :).

Murid saya juga ga percaya kalau saya sebelumnya belum pernah mengajar. Dia bilang kalau cara mengajar saya enak. Saya juga bersikukuh tetap mengajarinya hingga dia bisa, walaupun waktu les yang hanya 1,5 jam telah berakhir, dan dia suka, karena mereka jadi mau ga mau bener-bener paham agar saya segera meninggalkan rumahnya :D. Saya 'ngotot' karena saya merasa punya tanggung jawab untuk mengajarinya. Masa iya, saya terima uang dari orang tuanya, tapi tanpa ada peningkatan prestasi/nilai akademis? Sama seperti makan gaji buta dong? :D
NB: Poin nomor 9 ini bukan promo lho yaaa :D :D :P
10. Mengajar Mendekatkan Saya pada Kasus Psikologis
Dalam mengajar, tentu saya menemui karakter-karakter unik pada murid saya. Ada yang kalau belajar maunya dibacakan (jadi saya semacam mendongeng pelajaran gitu, untung mereka ga tidur :D) sambil jalan-jalan, muter-muter dalam rumah (karena dia seorang auditori-kinestetik), ada yang takut duluan sebelum ulangan matematika, dan sebagainya.
Sebagai seorang calon psikolog *:D*, saya juga berusaha memberi treatment-treatment yang tepat untuknya. Misalnya, saat les, saya memberi puzzle matematika yang bertuliskan I ❤ MATH dan diakhir les, berkali-kali, saya menyampaikan padanya bahwa matematika sama menyenangkannya dengan Bahasa Inggris (dia menyukai Bahasa Inggris).
Dan alhamdulillah, setelah beberapa kali pertemuan, nilai matematinya berada jauh di atas KKM :).
Tiada yang lebih membahagiakan bagi seorang guru, saat muridnya mencapai beberapa tingkat di atas dari posisi awal dia berada :).
Dengan menemui kasus-kasus psikologis walaupun yang sederhana, saya yakin dapat membantu saya berlatih menjadi psikolog keren suatu saat, psikolog yang dapat membantu sesama dan bermanfaat untuk sesama, aamiin :)
Itulah kesepuluh alasan saya mencintai pekerjaan saya saat ini. Maka, sampai saat membuat posting ini, rasanya beraaat sekali jika suatu saat, saya harus berhenti untuk mengajar, baik mengajar les privat maupun mengajar sebagai volunteer di Save Street Child Surabaya.
Teaching is a part of my soul :)
Ten Day Blog Challenge :)
Hello bloggy!
Rasanya susah banget ya meluangkan waktu untuk menulis setiap harinya? Huhuhuhu, jadi belum bisa nulis setiap hari kaaan? Padahal niat buat bisa nge-blog setiap hari sudah ada sejak tahun lalu. Mungkin niatnya kurang bulat ya, makanya action-nya juga setengah-setengah? :D
Jujur, kadang ada banyaaak hal yang ingin saya tulis, tapi apalah daya saat saya ga mood nulis atau saat saya (sok) sibuk. Maka, terbengkalailah apa-apa yang sudah saya mau tulis di blog -__________-. Kadang, saya hanya bisa memandangi poin-poin tulisan yang saya niatkan untuk saya tulis itu, di kertas-kertas atau notes yang hampir selalu ada di tas dan saya bawa kemana-mana :(.
Naaah, untuk 'memaksa' saya dapat menulis di blog setiap hari adalah dengan mengikuti *soundtrack drumroll* iniiiiii :)

Ya, saya akan mengikuti tantangan sepuluh hari nge-blog! :D Ga ada salahnya kan mencoba nge-blog setiap hari selama sepuluh hari, tanpa bolong? Kali aja, bikin ketagihan, dan jadi kebiasaan, sama seperti mandi, makan, dan kegiatan sehari-hari lainnya :).
Anyway, saya tahu ada tantangan ini dari blognya Kak Meta Hanindita. Dia juga join challenge ini lhooo.
Start from today yaaa :)
Bye bloggy! :)
Rasanya susah banget ya meluangkan waktu untuk menulis setiap harinya? Huhuhuhu, jadi belum bisa nulis setiap hari kaaan? Padahal niat buat bisa nge-blog setiap hari sudah ada sejak tahun lalu. Mungkin niatnya kurang bulat ya, makanya action-nya juga setengah-setengah? :D
Jujur, kadang ada banyaaak hal yang ingin saya tulis, tapi apalah daya saat saya ga mood nulis atau saat saya (sok) sibuk. Maka, terbengkalailah apa-apa yang sudah saya mau tulis di blog -__________-. Kadang, saya hanya bisa memandangi poin-poin tulisan yang saya niatkan untuk saya tulis itu, di kertas-kertas atau notes yang hampir selalu ada di tas dan saya bawa kemana-mana :(.
Naaah, untuk 'memaksa' saya dapat menulis di blog setiap hari adalah dengan mengikuti *soundtrack drumroll* iniiiiii :)

Ya, saya akan mengikuti tantangan sepuluh hari nge-blog! :D Ga ada salahnya kan mencoba nge-blog setiap hari selama sepuluh hari, tanpa bolong? Kali aja, bikin ketagihan, dan jadi kebiasaan, sama seperti mandi, makan, dan kegiatan sehari-hari lainnya :).
Anyway, saya tahu ada tantangan ini dari blognya Kak Meta Hanindita. Dia juga join challenge ini lhooo.
Start from today yaaa :)
Bye bloggy! :)
Minggu, 23 Maret 2014
Pre Wedding Rush Stars Contest
Helo helo helo hai, my dearest readers of my blog *hahaha, sok-sok punya pembaca setia*! :D
Lama ya, saya tidak menulis di blog? Ahahaha, maafkan saya yaaa. Sebenarnya ada buanyak hal yang ingin saya ceritakan, tapiiiii... *mulai deh cari-cari alesan :D*
Saat ini, saya akan mem-post-ing tentang khayalan saya. Yaaa, khayalan tentang para aktor dan aktris, yang dimiliki oleh negeri Indonesia ku tercinta ini, yang akan memerankan tokoh-tokoh, JIKA SAYA MENDAPAT KESEMPATAN untuk MEMFILMKAN novel Pre Wedding Rush karya Okke Sepatumerah. Sebagai seorang yang memegang kendali penuh atas terciptanya film tersebut (film pertama yang akan saya director-i), tentu saja, saya ingin film saya tersebut menjadi film yang luar biasa, cetar membahana badai halilintar *mulai lebay*. Sayang dong kalau jalan ceritanya sudah kece badai alias sangat bagus, tapi menjadi biasa saja karena pemilihan para aktor dan aktris yang kurang tepat. Maka dari itu, di film ini, saya juga berperan sebagai casting director. Pemilihan para aktor dan aktris ini meliputi kemampuan akting dan perawakan (penampakan secara luar/fisik). Kedua hal tersebut menurut saya saling menunjang/melengkapi :).
Karena posting saya ini dibuat dalam rangka mengikuti PreWedRush Stars Contest yang disponsori oleh Cotton Ink dan Stiletto Book dengan host Luckty Giyan Sukarno :). Sponsor kontes ini kece-kece kaaan? Bagaimana ga kece kalau sponsornya sebuah clothing line dan penerbit buku yang mendedikasikan diri menerbitkan buku-buku fiksi maupun nonfiksi yang berkaitan dengan dunia perempuan? :)
Hahaha, pasti pada pengen ikutan juga. Ayo, ikut aja bloggy, masih ada waktu kok buat beli bukunya (yang belum beli :P), membaca, lalu ikut kontes ini. Pssst, meski sudah ada banyak review novel ini kalau bloggy ketik 'review novel Pre Wedding Rush karya Okke Sepatumerah' di google, SERIUS, bloggy ga akan dapat feel novel ini :D. Makanya, ayo beli bloggy *kak Okke, itungan belakangan yaaa, kan aku sudah bantuin promosi :D :D :D* :D.
Daaan, setelah saya memikirkan dengan masak-masak siapa saja para aktor dan aktris terbaik Indonesia sehingga pantas memerankan tokoh film pertama saya tersebut, saya memutuskan sebagai berikut :D :D :D *drumroll* *para aktor dan aktris dag-dig dug :D*.
1. Tokoh Lanang
Lanang adalah seorang pria yang sebenarnya menyukai kebebasan. Bagaimana tidak menyukai kebebasan jika tiba-tiba Lanang keluar dari pekerjaannya sebagai production manager di sebuah production house ternama di Jakarta. Ia jenuh, dan katanya ia tidak bisa menolak hasrat dari dalam dirinya untuk menghabiskan hidupnya di ‘jalan’ dengan memotret?
Kebebasan yang disukainya juga tersurat saat dia menjawab pertanyaan Menina "Pasti lo membutuhkan waktu lama untuk memutuskan menikah, Nang. Ya kan?". Saat itu Lanang menjawab "Konsep membawa orang lain masuk dalam kehidupan gue itu bener-bener bikin gue mimpi buruk berminggu-minggu. Gue ngebayangin hidup gue bakal kayak di penjara, nggak bisa mengambil keputusan berdasarkan apa yang gue suka dan mau".
See, bagaimana bisa menikah sebegitu menakutkan baginya? Meski saya belum menikah, setahu saya, menikah dapat membuat segalanya menjadi indah karena kehidupan kita juga dilengkapi dengan cinta di jalan yang benar, meski sangat mungkin di tengah jalan nantinya, kerikil dan batu kita ditemui, tidak melulu berada pada aspal bahkan jalan tol yang bebas hambatan :).
Secara fisik, Lanang sempat berambut gondrong (saat belum menikah) meski akhirnya saat ini penampilannya lebih rapi (kan sudah ga gondrong lagi rambutnya dan menurut Menina Lanang saat ini berpakaian dengan lebih rapi (halaman 14) :)), badannya atletis (visualisasi saya Lanang berbadan tinggi besar sehingga saat bersalaman, genggamannya terasa kokoh dan hangat).
Maka dari itu, saya memutuskan REZA RAHADIAN berperan sebagai Lanang :).
Lanang suka berpetualang dan gaya Reza Rahadian, cukup mewakili tokoh Lanang. Lanang berambut gondrong, meski Reza tidak pernah berambut yang jelas-jelas gondrong, tapi Reza berambut yang menurut saya (yang mengartikan rambut pendek adalah rambut cepak sehingga menganggap laki-laki berambut lebih dari potongan cepak adalah berambut gondrong :D) tergolong gondrong. Ya nanti saat Reza berperan Lanang saat ini, yang rapi, diakalin ajalah, kan ada hair styling supaya terkesan pendek dan rapi :D.
Style Reza seperti ini cukup mewakilkan tokoh Lanang yang anak 'jalan', suka berpetualang, dan kebebasan kan?



Nah, kalau begini juga mewakili Lanang yang saat ini telah rapi kan, tapi tetap casual? :)

Lanang juga seorang yang suka menikung -___________- (menurut saya, tapi semoga memang begitu *agak maksa*). Kebetulan, Reza Rahadian pernah berperan sebagai pria yang suka bermain perempuan di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan aktingnya sangat bagus disitu, maka semakin yakinlah saya memilih Reza Rahadian untuk memerankan tokoh Lanang :).
2. Tokoh Menina
Menina adalah seorang wanita yang tidak beda jauh dengan Lanang. Dia seorang wanita mandiri dan suka berpetualang (kalau istilah berpetualang terkesan ekstrim, ya diganti dengan berpergian atau traveling juga boleh :)). Dia wanita yang tidak terlalu ambil pusing dengan segala printilan khas perempuan. Saya membayangkan gambaran seorang Menina adalah wanita dengan benda-benda yang bernama kaos, jeans, kemeja dan celana kain untuk acara formal, misalnya saat mengajar (Menina adalah seorang dosen), flat shoes, dan ransel.
Meski demikian (mandiri dan menyukai traveling ala ransel (bukan koper), dia wanita yang layaknya wanita, yang membutuhkan pria.
Dan saya memutuskan ATIQAH HASIHOLAN memerankan tokoh Menina :).
Beberapa kali, saya melihat akting Atiqah yang apik. Atiqah pernah berperan sebagai wanita independent lengkap dengan gaya busananya tanpa printilan khas wanita di film Jamilah dan Sang Presiden. Bagaimana tidak independent jika ia berperan sebagai Jamilah korban perdagangan manusia, lalu mengalami berbagai fase kehidupan yang menyedihkan? Coba saja baca ini.
Penampilan Atiqah Hasiholan seperti gambar berikut cukup mewakilkan tokoh Menina kan? Cantik meski casual :)

3. Tokoh Dewo
Dewo adalah seorang pria dewasa yang cool, pengertian, perhatian, dan penuh dengan kasih sayang *sempurna!*.
Saya tidak bisa banyak bercerita tentang Dewo karena Dewo tidak terlalu banyak berperan. Tapi sekalinya berperan, saya selalu berkesimpulan "Gila, keren, gentleman, so sweet, dan segala kesempurnaan lain yang 'seharusnya' dimiliki pria untuk seorang drama queen seperti saya :D, nih orang!".
Dengan demikian, saya memilih RIO DEWANTO memainkan peran Dewo :).
Mengapa Rio Dewanto? Karena Rio Dewanto sampai saat ini banyak memerankan tokoh protagonis, ke-laki-laki-an, bak super hero kaum hawa, dan saya menyukai dengan sangat aktingnya :) *percayalah bahwa saya menuliskan ini bukan karena saya fans beratnya, saya hanya berusaha melihat secara obyektif melalui track record/pengalaman aktingnya :D*. Secara fisik, Rio seorang pria berpenampilan rapi dali seperti Dewo yang diceritakan di novel. Maka? Ya maka saya tidak memiliki sebuah alasan pun untuk tidak memercayakan peran Dewo pada Rio Dewanto :).
Bagaimana Rio Dewanto seperti ini, mengagumkan bukan? :D :D :D

4. Tokoh Sigit
Sigit adalah seorang pria berambut panjang dan lengan kanannya dipenuhi tatto.
Mungkin seperti ini

Maka, saya memilih TORA SUDIRO memerankan tokoh Sigit :).
Selain karena dirinya telah bertato, dia juga (pernah) berambut panjang dan lurus yang dapat diikat di bagian leher seperti ini

Saya sengaja memilih aktor yang telah bertato untuk memerankan tokoh Dewo. Tokoh Dewo diceritakan memiliki tato yang memenuhi lengan kanannya. Saya sebagai 'sutradara' mengerti bahwa tidak semua aktor rela lengannya ditato untuk mendukung perannya :) *sutradara pengertian*. Maka, saya memutuskan memilih yang telah ada. Dan saya rasa memilih Tora Sudiro untuk memerankan tokoh Dewo tidak salah karena Tora juga seorang aktor, meski debutnya lebih banyak di komedi. Aktingnya bagus dan dia dalam kehidupan kesehariannya yang saya ketahui dari TV, cukup menyayangi istrinya. Seperti hubungan Dewo dengan istrinya yang tidak ada kemesraan berlebihan, sudah seperti layaknya sahabat (halaman 98).
Saya pernah menonton sebuah acara dimana Tora sebagai bintang tamu. Di acara itu, dia mengatakan bahwa dia selalu lupa tanggal ulang tahun istrinya, tapi istrinya biasa saja, tidak marah. Coba kalau pasangan yang sangat mesra, lupa ulang tahun, bisa jadi masalah, hahaha :D
5. Tokoh Ayako
Ayako adalah seorang perempuan asal Jepang, tapi sudah lancar berbahasa Indonesia. Ayako memerankan tokoh yang tidak saya ketahui maksud dia sebenarnya apa. Sudah bersuami, tapi menyukai dan akhirnya menikah dengan teman prianya, teman yang terlibat pembuatan buku seni rupa Indonesia.
Dia berperan antagonis, setidaknya tersirat dari sikapnya yang hampir selalu menganggap tidak adanya mantan teman pria nya tersebut. Pendapat saya tentang Ayako adalah egois dan centil.
Akhirnya, saya menentukan LENNA TAN memerankan tokoh Ayako :).
Alasan saya memilih Lenna Tan adalah wajahnya yang oriental, layaknya orang Jepang dan debutnya diseni peran adalah cenderung memerankan tokoh antagonis. Maka, Lenna Tan pasti dapat memerankan tokoh Ayako dengan sangat memukau :).

Dari fotonya aja sudah terlihat keren memerankan tokoh Ayako kan? :)
Bloggy setuju kaaan sama pendapatku tentang aktor-aktris pilihanku untuk memerankan tokoh-tokoh di novel Pre Wedding Rush? :)
Ohya, kalau mau kasih saran boleh kok. Saya akan menerimanya dengan senang hati dan selamat untuk para aktor dan aktris yang terpilih :).
Bye bloggy :)
Lama ya, saya tidak menulis di blog? Ahahaha, maafkan saya yaaa. Sebenarnya ada buanyak hal yang ingin saya ceritakan, tapiiiii... *mulai deh cari-cari alesan :D*
Saat ini, saya akan mem-post-ing tentang khayalan saya. Yaaa, khayalan tentang para aktor dan aktris, yang dimiliki oleh negeri Indonesia ku tercinta ini, yang akan memerankan tokoh-tokoh, JIKA SAYA MENDAPAT KESEMPATAN untuk MEMFILMKAN novel Pre Wedding Rush karya Okke Sepatumerah. Sebagai seorang yang memegang kendali penuh atas terciptanya film tersebut (film pertama yang akan saya director-i), tentu saja, saya ingin film saya tersebut menjadi film yang luar biasa, cetar membahana badai halilintar *mulai lebay*. Sayang dong kalau jalan ceritanya sudah kece badai alias sangat bagus, tapi menjadi biasa saja karena pemilihan para aktor dan aktris yang kurang tepat. Maka dari itu, di film ini, saya juga berperan sebagai casting director. Pemilihan para aktor dan aktris ini meliputi kemampuan akting dan perawakan (penampakan secara luar/fisik). Kedua hal tersebut menurut saya saling menunjang/melengkapi :).
Karena posting saya ini dibuat dalam rangka mengikuti PreWedRush Stars Contest yang disponsori oleh Cotton Ink dan Stiletto Book dengan host Luckty Giyan Sukarno :). Sponsor kontes ini kece-kece kaaan? Bagaimana ga kece kalau sponsornya sebuah clothing line dan penerbit buku yang mendedikasikan diri menerbitkan buku-buku fiksi maupun nonfiksi yang berkaitan dengan dunia perempuan? :)
Hahaha, pasti pada pengen ikutan juga. Ayo, ikut aja bloggy, masih ada waktu kok buat beli bukunya (yang belum beli :P), membaca, lalu ikut kontes ini. Pssst, meski sudah ada banyak review novel ini kalau bloggy ketik 'review novel Pre Wedding Rush karya Okke Sepatumerah' di google, SERIUS, bloggy ga akan dapat feel novel ini :D. Makanya, ayo beli bloggy *kak Okke, itungan belakangan yaaa, kan aku sudah bantuin promosi :D :D :D* :D.
Daaan, setelah saya memikirkan dengan masak-masak siapa saja para aktor dan aktris terbaik Indonesia sehingga pantas memerankan tokoh film pertama saya tersebut, saya memutuskan sebagai berikut :D :D :D *drumroll* *para aktor dan aktris dag-dig dug :D*.
1. Tokoh Lanang
Lanang adalah seorang pria yang sebenarnya menyukai kebebasan. Bagaimana tidak menyukai kebebasan jika tiba-tiba Lanang keluar dari pekerjaannya sebagai production manager di sebuah production house ternama di Jakarta. Ia jenuh, dan katanya ia tidak bisa menolak hasrat dari dalam dirinya untuk menghabiskan hidupnya di ‘jalan’ dengan memotret?
Kebebasan yang disukainya juga tersurat saat dia menjawab pertanyaan Menina "Pasti lo membutuhkan waktu lama untuk memutuskan menikah, Nang. Ya kan?". Saat itu Lanang menjawab "Konsep membawa orang lain masuk dalam kehidupan gue itu bener-bener bikin gue mimpi buruk berminggu-minggu. Gue ngebayangin hidup gue bakal kayak di penjara, nggak bisa mengambil keputusan berdasarkan apa yang gue suka dan mau".
See, bagaimana bisa menikah sebegitu menakutkan baginya? Meski saya belum menikah, setahu saya, menikah dapat membuat segalanya menjadi indah karena kehidupan kita juga dilengkapi dengan cinta di jalan yang benar, meski sangat mungkin di tengah jalan nantinya, kerikil dan batu kita ditemui, tidak melulu berada pada aspal bahkan jalan tol yang bebas hambatan :).
Secara fisik, Lanang sempat berambut gondrong (saat belum menikah) meski akhirnya saat ini penampilannya lebih rapi (kan sudah ga gondrong lagi rambutnya dan menurut Menina Lanang saat ini berpakaian dengan lebih rapi (halaman 14) :)), badannya atletis (visualisasi saya Lanang berbadan tinggi besar sehingga saat bersalaman, genggamannya terasa kokoh dan hangat).
Maka dari itu, saya memutuskan REZA RAHADIAN berperan sebagai Lanang :).
Lanang suka berpetualang dan gaya Reza Rahadian, cukup mewakili tokoh Lanang. Lanang berambut gondrong, meski Reza tidak pernah berambut yang jelas-jelas gondrong, tapi Reza berambut yang menurut saya (yang mengartikan rambut pendek adalah rambut cepak sehingga menganggap laki-laki berambut lebih dari potongan cepak adalah berambut gondrong :D) tergolong gondrong. Ya nanti saat Reza berperan Lanang saat ini, yang rapi, diakalin ajalah, kan ada hair styling supaya terkesan pendek dan rapi :D.
Style Reza seperti ini cukup mewakilkan tokoh Lanang yang anak 'jalan', suka berpetualang, dan kebebasan kan?



Nah, kalau begini juga mewakili Lanang yang saat ini telah rapi kan, tapi tetap casual? :)

Lanang juga seorang yang suka menikung -___________- (menurut saya, tapi semoga memang begitu *agak maksa*). Kebetulan, Reza Rahadian pernah berperan sebagai pria yang suka bermain perempuan di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan aktingnya sangat bagus disitu, maka semakin yakinlah saya memilih Reza Rahadian untuk memerankan tokoh Lanang :).
2. Tokoh Menina
Menina adalah seorang wanita yang tidak beda jauh dengan Lanang. Dia seorang wanita mandiri dan suka berpetualang (kalau istilah berpetualang terkesan ekstrim, ya diganti dengan berpergian atau traveling juga boleh :)). Dia wanita yang tidak terlalu ambil pusing dengan segala printilan khas perempuan. Saya membayangkan gambaran seorang Menina adalah wanita dengan benda-benda yang bernama kaos, jeans, kemeja dan celana kain untuk acara formal, misalnya saat mengajar (Menina adalah seorang dosen), flat shoes, dan ransel.
Meski demikian (mandiri dan menyukai traveling ala ransel (bukan koper), dia wanita yang layaknya wanita, yang membutuhkan pria.
Dan saya memutuskan ATIQAH HASIHOLAN memerankan tokoh Menina :).
Beberapa kali, saya melihat akting Atiqah yang apik. Atiqah pernah berperan sebagai wanita independent lengkap dengan gaya busananya tanpa printilan khas wanita di film Jamilah dan Sang Presiden. Bagaimana tidak independent jika ia berperan sebagai Jamilah korban perdagangan manusia, lalu mengalami berbagai fase kehidupan yang menyedihkan? Coba saja baca ini.
Penampilan Atiqah Hasiholan seperti gambar berikut cukup mewakilkan tokoh Menina kan? Cantik meski casual :)

3. Tokoh Dewo
Dewo adalah seorang pria dewasa yang cool, pengertian, perhatian, dan penuh dengan kasih sayang *sempurna!*.
Saya tidak bisa banyak bercerita tentang Dewo karena Dewo tidak terlalu banyak berperan. Tapi sekalinya berperan, saya selalu berkesimpulan "Gila, keren, gentleman, so sweet, dan segala kesempurnaan lain yang 'seharusnya' dimiliki pria untuk seorang drama queen seperti saya :D, nih orang!".
Dengan demikian, saya memilih RIO DEWANTO memainkan peran Dewo :).
Mengapa Rio Dewanto? Karena Rio Dewanto sampai saat ini banyak memerankan tokoh protagonis, ke-laki-laki-an, bak super hero kaum hawa, dan saya menyukai dengan sangat aktingnya :) *percayalah bahwa saya menuliskan ini bukan karena saya fans beratnya, saya hanya berusaha melihat secara obyektif melalui track record/pengalaman aktingnya :D*. Secara fisik, Rio seorang pria berpenampilan rapi dali seperti Dewo yang diceritakan di novel. Maka? Ya maka saya tidak memiliki sebuah alasan pun untuk tidak memercayakan peran Dewo pada Rio Dewanto :).
Bagaimana Rio Dewanto seperti ini, mengagumkan bukan? :D :D :D

4. Tokoh Sigit
Sigit adalah seorang pria berambut panjang dan lengan kanannya dipenuhi tatto.
Mungkin seperti ini

Maka, saya memilih TORA SUDIRO memerankan tokoh Sigit :).
Selain karena dirinya telah bertato, dia juga (pernah) berambut panjang dan lurus yang dapat diikat di bagian leher seperti ini

Saya sengaja memilih aktor yang telah bertato untuk memerankan tokoh Dewo. Tokoh Dewo diceritakan memiliki tato yang memenuhi lengan kanannya. Saya sebagai 'sutradara' mengerti bahwa tidak semua aktor rela lengannya ditato untuk mendukung perannya :) *sutradara pengertian*. Maka, saya memutuskan memilih yang telah ada. Dan saya rasa memilih Tora Sudiro untuk memerankan tokoh Dewo tidak salah karena Tora juga seorang aktor, meski debutnya lebih banyak di komedi. Aktingnya bagus dan dia dalam kehidupan kesehariannya yang saya ketahui dari TV, cukup menyayangi istrinya. Seperti hubungan Dewo dengan istrinya yang tidak ada kemesraan berlebihan, sudah seperti layaknya sahabat (halaman 98).
Saya pernah menonton sebuah acara dimana Tora sebagai bintang tamu. Di acara itu, dia mengatakan bahwa dia selalu lupa tanggal ulang tahun istrinya, tapi istrinya biasa saja, tidak marah. Coba kalau pasangan yang sangat mesra, lupa ulang tahun, bisa jadi masalah, hahaha :D
5. Tokoh Ayako
Ayako adalah seorang perempuan asal Jepang, tapi sudah lancar berbahasa Indonesia. Ayako memerankan tokoh yang tidak saya ketahui maksud dia sebenarnya apa. Sudah bersuami, tapi menyukai dan akhirnya menikah dengan teman prianya, teman yang terlibat pembuatan buku seni rupa Indonesia.
Dia berperan antagonis, setidaknya tersirat dari sikapnya yang hampir selalu menganggap tidak adanya mantan teman pria nya tersebut. Pendapat saya tentang Ayako adalah egois dan centil.
Akhirnya, saya menentukan LENNA TAN memerankan tokoh Ayako :).
Alasan saya memilih Lenna Tan adalah wajahnya yang oriental, layaknya orang Jepang dan debutnya diseni peran adalah cenderung memerankan tokoh antagonis. Maka, Lenna Tan pasti dapat memerankan tokoh Ayako dengan sangat memukau :).

Dari fotonya aja sudah terlihat keren memerankan tokoh Ayako kan? :)
Bloggy setuju kaaan sama pendapatku tentang aktor-aktris pilihanku untuk memerankan tokoh-tokoh di novel Pre Wedding Rush? :)
Ohya, kalau mau kasih saran boleh kok. Saya akan menerimanya dengan senang hati dan selamat untuk para aktor dan aktris yang terpilih :).
Bye bloggy :)
Langganan:
Postingan (Atom)