Jumat, 07 Februari 2014

Surat untuk Stiletto Book

Hello stiloooooo, apa kabaaar? Semoga stillo selalu sehat, jadi bisa launch makin banyak buku yang bermanfaat dan bikin banyak perempuan yang makin smart dan sexy :D *kan jargon stillo BE SMART AND SEXY WITH STILETTO BOOK, lihat deh di www.stilettobook.com*.

Dear stillo *ngucapinnya pake gaya romantis, ala-ala cowok yang ngelamar ceweknya :D*, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY THIRD ANNIVERSARY :).



Stillo, maju terus pantang mundur yaaa *seperti mau perang aja yaaa?*. Maksudnya, majulah terus stillo-ku dalam menghasilkan buku-buku tentang perempuan. Sure, buku-bukumu bikin aku merasa lebih nyaman. Misalnya, aku ga worry lagi dengan pilihanku untuk menikah di usia 27 nanti karena aku masih ingin lanjut kuliah dan berkarier, setelah stillo launch novel Geek in High Heels *aku membeli dan membacanya loh stillo*.



Novel itu meyakinkanku bahwa ada ‘orang’ yang tidak menikah diusia awal 20 tahun, selain aku :).

Aku pun juga menjadi mengetahui perjuangan wanita yang sedang hamil lalu mengasuh anak, ditengah kesibukan dan ke-hectic-an wanita tersebut dengan pekerjaannya *bekal banget ini kalau sudah jadi istri* setelah stillo launch buku Don’t Worry to be A Mommy *aku membeli dan membacanya juga loh stillo, aku juga jadi pemenang ketiga dalam book review kontes buku Don’t Worry to be A Mommy, yang stillo adakan*.





Stillo, kamu pun telah membantuku untuk menjadi lebih percaya diri dalam menulis. Menjadi pemenang ketiga dalam book review kontes membuatku merasa bahwa tulisanku tidak terlalu buruk *se-ga-nya begitu menurut stillo :D*. Saat ini, aku masih terus belajar menulis dengan mengikuti kompetisi menulis dan mengirim tulisan ke surat kabar. Ohya, awal Januari 2014, tulisanku juga dimuat di Harian Surya, di kolom citizen reporter.



Dulu, aku ga berani ngirim tulisanku, nulis aja jarang *lebih tepatnya hampir ga pernah :D*, jadi ide-ide atau pemikiran-pemikiranku terhadap sesuatu menguap begitu saja *padahal kalau pemikiran-pemikiranku itu ditulis, sekarang, aku sudah punya lebih banyak prestasi di bidang tulis-menulis *pede amat**, karena aku dulu ga yakin kalau ada orang yang akan ‘melihat’ tulisanku. Tapi, yang lalu biarlah berlalu, sejak beberapa bulan lalu, aku mulai meluangkan waktuku untuk menulis karena aku tidak ingin hilang dalam masyarakat dan sejarah, seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah -menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Saat ini, yang terpenting adalah mencoba menulis dengan usaha terbaik kita, entah hanya untuk menghibur dan pengisi waktu luang banyak orang di luar sana dan diri sendiri *menulis itu menyenangkan loooh, salah satunya sebagai penyalur perasaan dan isi hati kita #ehhjadicurhat, atau untuk mencoba memberi alternatif pemikiran kita terhadap isu-isu saat ini *bahasanya mulai berat deh ini ya? :P*. Mengenai diterima/ditolak oleh orang lain, urusan belakang. Bukankah jika kita telah memberikan usaha terbaik kita, dan ikhlas dalam menulis, kita bisa menerima apapun hasil dari usaha kita tersebut? :)

Stillo, terima kasih banyak yaaa, meski aku belum pernah ke tempat stillo, tapi aku ngerasa deket sama stillo, karena stillo bisa ditemukan di banyak tempat. Ke mall aja, bisa ketemu stillo di Gramedia :D. Stillo juga membantuku untuk terus menulis walaupun sudah suntuk karena stillo tiba-tiba muncul dan memberi solusi menghadapi writer’s block *ahh, stillo pengertian, sini-sini peluk dulu dari jauh :**.

Stillo, aku sebenarnya pengen loh bisa jadi salah satu penulis di tempatmu. Tapi, sepertinya tidak dalam waktu dekat karena aku ketinggalan informasi mengenai seleksi untuk kontributor di Cup of Tea Cinta Buta T.T. Padahal setelah tahu kalau para kontributor serial ‘Cup of Tea” adalah hasil seleksi, aku berharap bisa ikut seleksinya. Mungkin, dikesempatan lain yaaa, bahkan kalau bisa dengan menjadi penulis buku tunggal *ga keroyokan kayak di serial “Cup of Tea” :D*, aamiin.

Okeee stillo, sudahan ya suratnya, kapan-kapan disambung lagi :).

Best regards,

Anugrah Rahmayani
anugrah_rahmayani@yahoo.com


NB:
Ini beberapa fotoku dengan beberapa Stiletto Book *kalau agak banyak fotonya ya dimaklumi yaaaa, soalnya suka foto :D*

Aku dan Buku "Geek in High Heels" karya Octaviani Nur Hasanah (Octa N. H.) *The Most My Favourite Book, soalnya tokoh utamanya sepemikiran denganku :D* :)



Aku dan Buku "Don't Worry to be A Mommy" karya dr. Meta Hanindita :)



Ini buku-buku Stiletto ku (meski belum lengkap, tapi lumayanlah ya :D). Mana punyamu bloggyyyyy? ;)

Selasa, 07 Januari 2014

My First Time

Hai blogyyyyyyyyyyyyy, seneng banget akhirnya untuk pertama kalinya, tulisanku dimuat di koran. Yaaa, Jumat, 3 Januari 2014, tulisanku dimuat di Harian Surya :) Ga nyangka banget soalnya aku kirimnya sudah dari tanggal 23 Desember 2013. Setahun ya? Hahahhaa :D Yaaaa, itu karena mungkin banyak yang kirim, makanya antri :D Ohya, dimuatnya di kolom CITIZEN REPORTER :D Selain itu aku sebenernya cuma iseng-iseng bolak-balik lembar koran yang dibeli pakdeku di sore hari hampir Maghrib gitu. Loh kok ternyata ada tulisanku, ya seneng banget, triak-triak juga *ah ga juga sih :)*


Ini buktinyaaaaaa :D


Alhamdulillah, semoga makin termotivasi untuk terus berlatih menulis dan menulis :). Dan semoga semakin banyak tulisanku yang ada di media, Aamiin :)

This’s Why I Don’t Go Home Late

Ngerasa bersalah atau ngerasa aneh, atau apalah istilahnya, intinya menunjukkan KETIDAKNYAMAN, waktu pulang telat? If you say ‘yes’, you’re like me! Dari dulu kalau pulang telat, ga tau itu karena nonton pertandingan basket sama adek, om, dan bulik (dulu waktu SMA), atau karena ngajar (sekarang, aku gabung di komunitas Save Street Child Surabaya, dimana ngajar *ehm, diganti kata main aja ya, biar terkesan santai, meski serius* dimulai jam 7 malem sampai sekitar jam 9), selalu ngerasa bersalah, aneh, pokoknya ga nyaman karena ga ‘gue banget’. Rasanya itu, ‘ih, kok baru pulang jam segini sih; perempuan tapi kok pulangnya malem, ga enak nih dilihat tetangga’.


Aku ga tau ya, sebenernya jam malam itu jam berapa. Tapi sejak kecil, orang tuaku selalu bilang ‘hayo, sudah jam 9, tidur, biar besok ga susah dibangunin dan ga telat ke sekolah’. Memang, dari TK, aku sekolah di sekolah yang masuknya jam 6.30 (TK kecil pun, aku masuk jam sepagi itu, baru TK besar masuk jam 9 *kalau ga salah* karena waktu itu kelasnya terbatas, jadi pagi hari kelasnya dipake TK kecil, sekitar jam 9 sampai sekitar jam 12 kelas dipake TK besar). Yaaa, I was a student of Taruna Dra. Zulaeha, dari TK sampai SMA. Dan setauku, di Probolinggo, sekolah yang masuknya sepagi itu cuma sekolahku, bahkan kalau lebaran dan ketemu sepupuku yang lain, yang tinggal di kota lain, termasuk Surabaya, tetep aja, aku yang masuknya terpagi. Sekolah mereka masuk jam 6.45.


Makanya, orang tuaku ga mau, aku telat tidur trus besok paginya susah dibangunin trus telat ke sekolah. Apalagi telat tidurnya cuma karena nonton TV. Ehm, bisa dipastikan kalau ga diizinkan. Kata mereka kalau mau nurutin acara TV, ga bakal ada habisnya karena selalu berusaha menayangkan acara yang menarik. Aku masih inget, suatu saat waktu di rumah sendiri, aku menghabiskan waktuku seharian cuma untuk nonton TV, selesai acara A, lanjut nonton acara B, begitu seterusnya, sampai ga kerasa kalau sudah sore. Pindah-pindah stasiun TV juga sering, entah karena acaranya kurang bagus atau cuma karena acara yang sedang ditonton sedang sponsor *yang sering banget lamaaaaaaaaaaaaaa buat mulai lagi setelah komersial break. Ga heran lah ya, waktu tau kalau ternyata penduduk Indonesia adalah orang yang paling banyak nonton iklan di seluruh dunia!* Ohya, dan heran deh, kenapa selalu ada stasiun TV yang ngerti seleraku -.- Aku suka banget acara talkshow, trus semacam ‘Orang Pinggiran’ di Trans 7, ‘Lentera Indonesia, Indonesia Bagus’ di Net TV, ‘Celebrity on Vocation, Ngulik’ di Trans TV. Selesei acara A di stasiun TV B, trus acaranya jelek, pindah ke stasiun TV A, ternyata ada acara kesukaanku. Keadaan itu berlagsung terus-menerus jadi sayang banget mau matikan TV, stasiun-stasiun TV itu seakan-akan sudah merencanakan jadwal menontonku dengan baik -.-.


Ditambah lagi kenyataan bahwa aku punya orang tua yang disipilin. Sempurnalah diriku dibuat untuk menjadi teratur. Nyesel? Ya ga lah karena keteraturan membuatku semuanya menjadi mudah :) *meski bukan berarti aku ga suka perubahan, suka sih, tapi kalau perubahan yang mendadak itu bukan aku banget!*


Oke, balik lagi ke topik awal. Karena permintaan orang tua untuk segera tidur kalau sudah jam 9 (meski ga papa tidur diatas jam 9 kalau belum selesai belajar di hari efektif dan masih pengen nonton TV di malam minggu), aku menjadikan jam 9 sebagai jam malam. Makanya, aku selalu ngerasa aneh kalau pulang ke rumah di atas jam 9, meskipun sebenernya diizinkan. Tapi tetep aja, jam 9 sebagai jam malam, dimana seharusnya aku sudah di rumah, meski belum mau akan tidur. Jam 9 masih di luar rumah itu kok rasanya ga nyaman.


Sekarang, aku tinggal sama bude. Dari awal, sebenernya aku diizinkan ikut main di Save Street Child Surabaya, tapi tetep aku ngerasa ga enak kalau jam 9 malem belum sampai rumah. Suatu waktu, aku nanya ke bude, ‘Sebenernya jam malam di rumah bude jam berapa?’. Tapi bude jawab, ‘Pulang jam berapapun ga papa, yang penting itu buat kebaikan dan ga macem-macem, bude percaya’. Meski gitu, aku tetep aja SMS bude kalau pulang telat-misalnya sudah selesei main sama adek-adek, yang sebenernya aku bisa langsung pulang kalau ga ada sesuatu yang PENTING harus dibicarakan dengan sesama volunteer/bukan cuma sekedar ngobrol kesana-kemari-misalnya karena hujan deres banget pake petir dan aku takut pulang, jadi bakal pulang kalau hujannya agak reda, se ga nya sudah ga petir. Kalau ga hujan, ya langsung pulang karena aku ga mau memanfaatkan kepercayaan bude, sudah selesei kok ga langsung pulang. Meskipun bude ga bakal tau/cari tau apa aku memang beneran pulang malem banget karena main sama adek-adek Save Street Child Surabaya atau yang lainnya.


Nah, sekarang akhirnya, aku menetapkan jam 10 malem atau paling telat jam 10.30 malem sebagai jam malamku kalau main sama temen-temen dan adek-adek Save Street Child Surabaya (hari Selasa, Rabu, dan Jumat). Tapi kalau hari biasa, ga ada kegiatan Save Street Child Surabaya, jam 9 malem adalah jam malemku. Makanya sering juga aku kalau keluar sama anak-anak budeku (budeku ga ikut jalan-jalan) dan sudah deket jam 9 mulai minta pulang. Kayak anak kecil? Ehm, ga juga, soalnya menurutku ga pantes aja perempuan keluar malem-malem apalagi cuma buat hal ga jelas, yang cuma ngabisin waktu, uang, dan tenaga. Kuno? Ah ga juga, demi apa aku dibilang kuno karena ga suka pulang larut malem? Aku mikir, kalau cuma buat refreshing dan mau lama, ya refreshing aja mulai sore, enak juga kan suasananya karena sudah ga panas kayak siang hari, dan jam 9 malem kita sudah bisa ada di rumah :).


Itu kenapa aku biasa aja alias ga ambil pusing, waktu temen-temen kuliahku bilang kalau aku anak rumahan, ga pernah pulang malem (entah ini maksudnya apa, mungkin bukan tipikal anak ‘gaul’ yang santai aja meski mereka perempuan dan masih di luar rumah hingga mendekati tengah malem). Karena menurutku ya inilah aku yang beda dengan mereka karena kita dibesarkan dengan cara yang berbeda.


Keadaan ini jadi buat aku mikir bahwa memang bener kalau kita sekarang dibentuk oleh kemarin. Aku jadi bertekad besok kalau sudah jadi ibu, mau membiasakan, menanamkan, mengajarkan sebanyak mungkin kebaikan pada anak-anakku. Ya, karena banyak hal pada diri kita saat ini adalah bentukan orang-orang yang merawat kita saat kita masih kecil :). Kalau sekarang mau jadi pribadi yang lebih baik, ya segera perbaiki diri agar beberapa waktu mendatang, kita menjadi pribadi yang lebih baik daripada saat ini karena sebenernya semua bisa diubah jika dibiasakan :D.

Minggu, 08 Desember 2013

I'm The Third Winner :)

Hei bloggyyyyyy :)

Seneng banget waktu kemaren tau dapet juara 3 lomba review buku 'Don't Worry To Be A Mommy!'Kalau pengen tau bukunya kayak apa, mending baca postingku sebelumnya, yang judulnya BEING A MOTHER? SIAPA TAKUUUT :) *promosi :)

Seneng sih, meski juara III, lah soalnya saingannya ibu-ibu, hahahaha *kan buku parenting, anak sekarang mana mau baca begitu -apaan sih makin ga nyambung

Waktu tau pengumuman tentang ada lomba review buku trus lihat hadiah2nya sebenernya yang paling pantes aku punya adalah boneka (hadiah juara III), selain buku-buku :D Juara kedua handuk. Oke, bisa aku pake meskipun punya stok handuk banyak :D Juara pertama jumpsuit bayi. Jujur, ini bikin bingung. Lah married aja belum, apalagi punya bayi, lha kok jumpsuit? Tapi trus mikir, oke, bisa aku pakaikan buat bayiku nanti (yaaa, 3 tahun lagi lah yaaa, Insyaallah :))

Eh ternyata Allah sesuai prasangka hamba-Nya beneran. Aku juara III. Hahaha, sebenernya antara ga percaya sama ngarep. Ngarep jadi juara pertama malahan, meski hadiahnya jumpsuit :D Dimana-mana, juara I lebih baik+lebih keren daripada juara II dan juara III. Tapi so far, menangnya aku ini, bikin aku bersemangat untuk menulis. Se ga nya karena ada orang yang mengapresisi tulisanku *lebay

Sebenernya, dari dulu, aku suka nulis, tapi ya sekedar curhatan ga bermakna. Kepikiran buat nerbitin buku, tapi berakhir dengan rancangan-rancangan di kertas-kertas, yang sekarang entah dimana :D

Semoga ini menjadi awal bagiku untuk (kembali) giat menulis hal-hal yang bermakna, bermanfaat, dan menginspirasi orang lain, aamiin :)

Ini bukti aku juara III review buku *pengumumannya di website penerbitnya :)

Trying to show My Love :)

My mother is a poem. I’ll never be able to write, though everything I write is a poem to my mother –Sharon Doubiago

Ya, pernyataan itu bener banget. Setuju banget!

Meski begitu, sekarang, aku mau bikin sedikit tulisan buat wanita luar biasa yang telah 9 bulan menjagaku dalam kandungan yang sehat sehingga membuatku nyaman di dalam dan hadir di dunia ini dengan selamat dan sehat wal’afiat, 22 tahun bersamaku, menjagaku dari orang-orang atau hal-hal buruk, menguatkanku saat aku down, merawatku ketika aku sakit, membimbingku untuk menjadi insan lebih baik baik, dalam berpikir dan bersikap, dan masih banyak kebaikan lain, yang diberikannya padaku, tanpa imbalan :).

Setidaknya, melalui tulisan ini, wanita yang kumaksud mengetahui bahwa aku mencintai dan menyayanginya juga. Sehingga, wanita tersebut tidak akan berpikir bahwa cinta dan kasih sayangnya tak berbalas. Ya meski lagi-lagi, seberapa panjang aku menulis untuknya, tidak benar-benar menunjukkan dalamnya rasaku padanya. May only God knows how deep my love to her :).

She is my great mother
:)

Ibu, betapa bangganya aku memilikimu, semoga engkau juga bangga padaku :). Aku sayaaaaaaang sekali padamu, semoga sayangku tidak seperti pepatah ‘kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah’ :).

Ibu, maafkan aku belum bisa menjadi seorang anak yang ideal untuk ibu yang luar biasa sepertimu. Aku belum bisa menjadi anak seperti yang kau harapkan melalui nama yang kau berikan padaku –Anugrah Rahmayani, belum menjadi anak seperti dalam doa-doa yang engkau sampaikan pada Allah diakhir shalat wajib dan sunahmu, diantara adzan dan iqomah dilima waktu shalat, bahkan sepanjang harimu (saat engkau melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tiada habisnya, melalui dzikirmu).

Ibu, engkau tidak pernah sekalipun membandingkanku dengan anak-anak dari ibu-ibu lain yang lebih baik dariku, bahkan menceritakan kelemahanku pada orang lain. Engkau selalu berhasil menciptakan kebahagiaan dalam dirimu, dengan selalu bersyukur atas apa yang telah kau miliki (termasuk memiliki anak sepertiku –yang memiliki banyak kekurangan). Engkau memilih untuk mendoakanku karena hanya Allah yang dapat mebolak-balikkan hati manusia, dan mengingatkanku untuk terus menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat bagi banyak orang, daripada mengeluhkan hal-hal yang kurang kau harapkan dariku. Engkau berhasil ‘menghijaukan rumputmu’ sehingga membuat orang lain ingin memiliki ‘hijaunya rumputmu’, sehingga pepatah rumput tetangga lebih hijau, tidak berlaku bagimu.

Ibu, aku hanya dapat menyampaikan terima kasih untuk semua yang telah kau berikan dengan tiada henti :). Aku menyayangimu selalu, walau tidak bisa kukatakan setiap saat. Semoga rasa sayangku bisa sedikit memperkuat quote dari Mildred B. Vermont “being a mother is one of the highest salaried jobs, since the payment is pure love”.



Putrimu yang selalu menyayangimu,

Anugrah Rahmayani