Sabtu, 08 Maret 2014

Yeay :D

Hellooooo bloggy :D

Bloggy tau kan kalau minggu lalu, aku ikut lomba ini?

Nah, alhamdulillah, aku juara IV :)


Sebenernya aku tau lomba itu sudah lama, sejak info lomba itu diumumkan tanggal 20 Pebruari. Dan aku SANGAT INGIN IKUT karena ya memang aku suka nulis, topik kontesnya juga aku sukai, dan sudah mbaca novelnya dengan merelakan sekian rupiah untuk membelinya (ane ga minjem bloggy :)), kan sayang kalau ga dicoba buat ikut contest-contest sebagai kompensasi sudah membeli novelnya :D *ga mau rugi :P*. Kali aja menang, kan kalau menang jadi balik modal, hahaha :D.

Ditambah lagi hadiahnya menarik hati saya yang suka sepatu, meski aku ga sampai geek sama sepatu :D.

Naaah, tapi karena mood untuk nulis ga kunjung datang, alhasil aku baru ngerjakan di hari terakhir kontes ini dilakukan (bahkan itupun sebenernya belum terlalu mood, agak maksa juga sih buat nulis :D). Bahkan aku baru selesai ngerjakan beberapa menit sebelum jam 12 malam! Gila banget deh kejar-kejaran banget sama waktu. Tapi aku cukup puas dengan saran-saranku tentang sepatu untuk para tokoh di novel itu (Pre Wedding Rush). Termasuk cukup puas dengan caraku menyampaikan saran.

Nah, pemenang kontes ini diumumkan hari Selasa tanggal 4 Maret 2014 jam 12.00. Aku yang sudah penasaran sama hasilnya, sudah mantengin twitter dan blog Mbak Okke Sepatumerah, sang penulis novel ini, sejak jam 12 kurang, hahaha :D. Trus pasang alarm HP pula, takut lupa kalau mesti nengok hasil pengumuman kontes ini :D :D :D.

Seneeeeeng banget bisa menang kontes nulis lagi setelah beberapa kali kalah dalam kompetisi nulis. Rasanya mood nulis mendekat lagi padaku, mood nulis yang telah pergi meninggalkanku tiba-tiba beberapa waktu lalu sekarang kembali lagi padaku :D.

Semoga ini bisa jadi moodboosterku untuk bisa terus belajar menulis, aamiin :)

Minggu, 02 Maret 2014

Pre Wedding Rush Perfect Shoes Contest

Hello bloggy!

Kalian tau kan novel Pre Wedding Rush karya seorang penggemar sepatu berwarna merah (kayaknya sih gitu, namanya di novel aja ada 'sepatumerah' nya gitu, padahaaal? :P *sotoy*), Kak Okke Sepatumerah? Novelnya bagus loh, aku sempet membik-membik waktu sampai di bagian Yogyakarta teeeeercinta ;). Ayo bloggy, cepet beli bukunya biar ga 'sumpah mati aku jadi penasaraaan, lalalala' *mbacanya pakai nada ini, hahahaha :D*.

Nah, kali ini, novel ini sedang mengadakan kontes, namanya kontesnya PRE WEDDING RUSH PERFECT SHOES CONTEST :) *ya ya ya, aku tau kok pasti bloggy juga mikir sama kayak aku 'gile, panjang bener nama kontesnya, hahaha :D', tenang-tenang I know so well kok bloggy, makanya aku tau kalau bloggy mikir gitu meski bloggy ga cerita ke aku*. Hadiahnya keren gila loh bloggy, yaitu voucher belanja dari shoeline kece, Wondershoe dan paket buku dari penerbit buku yang mendedikasikan diri menerbitkan buku-buku fiksi maupun nonfiksi yang berkaitan dengan dunia perempuan, yeay Stiletto Book dari Yogyakarta :D.

Gimana, keren kan hadiahnya? Bloggy pasti pengen ikutan kan? Hayooo ngaku *sambil kedip-kedipin mata*. Nah, kalau bloggy pengen ikutan, tengok dan pahamilah ini. Oke? :)

Ada lima tokoh yang berperan penting dalam munculnya novel ini (tokoh yang berperan munculnya bagian pembukaan, klimaks, sampai penutup). Pengen tau seperti apa mereka? Lanjutkan baca tulisan ini ya bloggy sampai selesai! Ohya, aku juga bakal sekalian nebak model sepatu para tokoh, kan aku posting ini memang dalam rangka mengikuti Pre Wedding Rush Perfect Shoes Contest :D. And here they are! :)

1. Lanang
Lanang adalah tokoh yang sering bikin aku sebel dan uring-uringan waktu baca novel ini. Dia ini 'kesana-kemari, tikung sana-sini, cipok sana-sini', tepok jidat deeeeeh!

Dia pengen selalu dibuai wanita *aiiiiih, kayak kata lagu ini :P*.

Menurutku, sepatu untuk seorang petualang dan suka tikung adalah BOOTS seperti ini.

Sumber: http://www.zalora.co.id/Vegard-Shoes-94337.html

2. Menina
Menina ini bikin gemes deh, secara dia plin-plan gitu. Dia ga punya kemantapan hati gitu buat melangkah ke masa depan, mungkin dia belum ndengerin lagu ini. Soundtrack Menina itu lagu ini sih, makanya dia beraaat banget buat bilang good bye, padahal si Raisa sudah nyaranin ini.

Menina isn't brave enough to say GOODBYE so her life doesn't really reward her with a new HELLO.

Berdasarkan penjelasan saya di atas, maka sepatu yang cocok untuk Menina adalah FLAT SHOES berwarna monokrom. Karena sepatu flat dapat membuat pemakainya bebas bergerak, mengingat Menina seorang yang suka berpergian. Mengapa monokrom? Karena Menina selalu butuh kejelasan, hitam atau putih, bukan yang abu-abu. Hal inilah yang membuatnya menganggap hubungan dengan kekasihnya sedari zaman kuliah berakhir saat sang kekasih pamit padanya untuk melanglang buana dan jaraaaaang menghubunginya. Padahal saat pamit, sang kekasih tidak mengatakan PUTUS. Bagi Menina, bersama berarti harus tetap ada komunikasi secara intens. Ya gitu deh, bloggy paham maksudku kan? *agak maksa, soalnya ga tau mau njelasin gimana lagi, yang sederhana, tapi mudah dipahami -.-*.

Gambar sepatunya seperti ini.

Sumber: http://www.wondershoe.com/ballet-flats/400-jemima-gold.html

3. Dewo
Dewo ini laki-laki idamanku. Perhatian, cool, dan berani berkomitmen. Singkat kata, he's perfect! Bloggy bisa mbayangin ga rasanya dikasih birthday surprise trus diakhir acara dilamar? Pasti pada mupeng, hahaha :D, samaaaaaa aku juga mupeng *ehh jadi curhat*.

So, I think LOAFERS is the best choice for him :). Loafers' like this.

Sumber: http://www.zalora.co.id/Derby-Shoes-103450.html

Pacaran 10 bulan itu sudah 'cukup' membuat kita mengetahui seperti apa pasangan kita kan? Untuk selanjutnya digunakan sebagai dasar pengambilan langkah berikutnya, mau dibawa kemana hubungan kita.

4. Sigit
Menurutku, Sigit ini tokoh yang paling mengenaskan nasibnya. Dia 'ditusuk' dari belakang sama sahabatnya sendiri :(. Sebelas-12 lah sama lagu ini. Selain itu, hubungan Sigit dengan istrinya juga kayak lagu ini, kalau curhatan Sigit dikasih nada, hohohoho. Aku heran, kenapa si istrinya itu ga bersyukur punya suami yang easy going dan romantis -_______-. Damn, you (Sigit's wife)!

Dilihat dari novel, Sigit ini seorang yang berperawakan ceking dan berkulit tembaga. Dia juga orang yang supel, setidaknya, ini dibuktikan dengan inisiatifnya yang banyak untuk melakukan tindakan pada korban gempa (ehm, ada gempanya lho bloggy. Penasaran? Just buy then read this nice book, bloggy :)).

Maka, menurut saya sepatu SNEAKER berwarna gelap, cocok untuknya. Gambarnya seperti di bawah ini.

Sumber: http://www.zalora.co.id/Aldrick-Sneaker-Twill-Canvas-131295.html

5. Ayako
Dari namanya yang 'bau-bau' Jepang, bloggy pasti sudah tau dong ya kalau Ayako ada unsur-unsur Jepang nya? Yaaa, Ayako memang orang Jepang, bener orang Jepang, bukan Njepang makanya namanya dikasih bau-bau Jepang :D. Meski orang Jepang, dia sudah cukup lancar berbahasa Indonesia kita tercinta ini :).

Kalau dilihat dari novel, Ayako itu sepertinya enerjik dan suka melakukan aktivitas sosial. Secara fisik, menurut novel di halaman ke-91, Ayako mungil, berkulit kuning langsat, berwajah polos tanpa make up, matanya sipit, dan berambut sangat pendek. Menurut saya, Ayako juga manja pada suami (manggilnya aja honey, trus coba deh baca halaman 92*eeeeerrr -.-*).

Jadi, menurut saya sepatu yang cocok untuknya adalah sepatu LOAFER colorful sehingga memberi kesan ceria toh warna kulitnya juga mendukung :D, seperti gambar di bawah ini.

Sumber: http://www.wondershoe.com/ikat-songket/383-padma-loafers.html
Girlie, anggun, dan dapat membuat geraknya bebas, tanpa rasa nyeri jika menggunakannya.



Kalau
boleh ngumpat, aku pengen banget ngumpat ke kedua tokoh wanita di novel ini, Menina dan istrinya Sigit (hayooo, pasti bloggy nebak-nebak siapa istrinya Sigit!). Entah mengapa, mereka berdua ini sama-sama meributkan pria yang ga saya banget. Sudah jelas-jelas mereka ini dikasih Tuhan lelaki yang baik hati, kok masiiiiiiiiiiih aja tolah-toleh ke belakang (si Menina) dan tolah-toleh ke samping (si istrinya Sigit) -___________-.

Oke, sekian bloggy dari aku :). Good night, sleep tight :*

Sabtu, 01 Maret 2014

Missing You Soooooo Bad

Sudah tiga kali berturut-turut, aku absen mengajar adik-adik Save Street Child Surabaya di Taman Bungkul. Rasanya kangeeeeen banget sama mereka, ga enak bangeeeeet, kayak ada yang hilang gitu...

Ini kali pertama dan semoga terakhir, aku absen ngajar (tapi sekalinya absen lama -.-). Mulai dari pertama kali aku gabung, aku selalu datang dikegiatan mengajar (kalau acara seperti piknik asik dan taman kata, aku memang ga pernah ikut, jumat sehat baru sekali ikut yang bener-bener ikut dari awal sampai akhir, sedangkan gathering pengajar, aku baru sekali ikut). Sebenarnya, aku pengin tetap bisa mengajar, tapi memang belum sekarang, se-ga-nya sampai minggu depan.

Ada beberapa orang yang bertanya mengapa aku mau mengajar padahal anak-anaknya 'menakutkan' dan padahal ga dibayar, malah ngeluarin uang. Mengapa aku mau berkorban buat orang yang bukan siapa-siapaku.

Sebenarnya, mereka bukan anak-anak yang menakutkan. Mereka sama seperti anak-anak yang lain, hanya keadaan dan lingkungan yang membuat mereka tampak berbeda dengan yang lainnya. Mereka sebenarnya adalah anak-anak manis, hanya lingkungan yang tidak mengajarkan mereka bersikap sopan dan bertutur-kata lembah-lembut. Maka dari itu, saya ingin membantu mereka menjadi anak-anak yang manis dan menunjukkan pada orang-orang yang mengganggapnya sebelah mata bahwa mereka BISA sama seperti anak-anak lainnya :). KALAU BUKAN KITA, SIAPA LAGI? *eaaaaa, nyontek jargonnya Save Street Child Surabaya :D*

Jujur, saat pertama mengajar, saya kaget, mereka tidak jarang membantah jika diingatkan, kata-kata kasar pun dengan mudah keluar dari mulut mereka. Tapi, saat ini, saya sudah sedikit terbiasa. Mereka membutuhkan teguran jika melakukan itu semua dan membalas bantahan mereka dengan kasih sayang, layaknya kita menyayangi saudara kita.

Susah ya? Lumayan, butuh kesabaran. Ga capek? Alhamdulillah, ga. Bener deh, mereka itu merupakan mood booster saya. Rasanya saya selalu punya kekuatan untuk terus menyiapkan bahan/permainan untuk pertemuan berikutnya, walaupun saya baru dapat mengerjakannya pada malam hari. Mereka membuat saya berarti karena kehadiran saya serasa dibutuhkan oleh mereka. Eits, jangan mikir yang muluk-muluk dulu! :D Sederhana saja, saat belajar dan mereka menghampiri saya untuk menanyakan tugas sekolah mereka atau mereka memberi feedback atas umpan yang saya beri, itu rasanya Subhanallah banget *senang luar biasa, capek hilang semua deh* :).

Ketika kita memberi materi, lalu mereka antusias atas penjelasan kita, atau ketika raut wajah gembira saat mereka mengerjakan evaluasi (soal) yang kita beri melalui permainan (untuk metode penyampaian materi dan evaluasi pengajaran, saya merasa sangat terbantu dengan ini), atau bahkan saat mereka mengatakan 'Kak, besok belajar lagi ya?' itu benar-benar menyenangkan dan tidak dapat digantikan oleh apapun. Mungkin terkesan lebay, but sure, they are my everything :). Makanya, saya sedih banget karena beberapa pertemuan terakhir ini, saya (terpaksa) absen.

Intermezo sebentar yaaa :)
Ini adalah gambar PIXEL MATH yang saya gunakan untuk mengevaluasi pemahaman materi matematika mereka (kelas V SD).

Ini soalnya, sengaja saya cetak warna-warni agar menarik dan setiap lembar berisi satu soal agar tidak terkesan banyak soalnya :). Saya hanya mengatakan, "Kakak punya permainan. Gampang banget kok, kalian tinggal jawab pertanyaan yang sudah kakak cetak warna-warni ini dengan benar. Kalau jawaban kalian benar, kalian akan mendapati kalimat pada lembar jawaban". Dengan semangat mereka mengerjakan soal sebanyak 59 soal. Dan mereka sangat enjoy karena tidak 'terlihat' jumlah soalnya.

Bayangkan jika soal dicetak warna hitam dan disatukan menjadi selembar HVS penuh? Waaaah, stres duluan deh. Soal UN matematika aja cuma 40 soal, lha ini cuma permainan kok soalnya sampai 59 soal, hahahaha :D

And this is the answer sheet :) Mereka dapat menjawab dengan benar sehingga mereka menemukan kalimat yang tersembunyi di lembar jawaban itu, yaitu "I ❤ SSCS". SSCS adalah singkatan dari Save Street Child Surabaya :).


Sedangkan ini adalah gambar PIXEL MATH yang saya gunakan untuk mengevaluasi pemahaman materi matematika murid les privat saya (kelas I SD).

Karena masih kelas I SD, maka soalnya pun 'hanya' seputar penjumlahan dan pengurangan dan berkisar 1 hingga 99. Soal saya tulis menggunakan kertas bufalo warna kuning dan hijau. Dia semangat loh :)

Daaan, lembar jawaban membentuk kalimat "I ❤ MATH". Saya sengaja memilih kalimat "I ❤ MATH" karena saya juga ingin memberi sugesti positif pada murid saya bahwa matematika adalah hal yang menyenangkan. SO, LET'S MAKE MATH PART OF OUR LIFE :). Matematika juga merupakan hal yang mudah karena tanpa kita sadari, kita telah melibatkan matematika dalam hidup kita, misalnya saat membeli makanan dan minuman di kantin. Bukankah inti dari matematika HANYA penjumlahan dan pengurangan? Kedua hal tersebut sangat mudah kan?:)
Murid saya ini mewarnainya menggunakan 2 warna, sesuai dengan warna soal. Jika soal berwarna hijau, maka dia akan memberi warna hijau di kotak jawabannya, begitu pula jika soalnya berwarna kuning. Maka dari itu, lembar jawaban ini berwarna hijau dan kuning, seperti warna soalnya :)


Balik lagi ke topik nih:
Mungkin, kebahagiaan bersama mereka yang membuat saya tidak merasa rugi karena harus 'bekerja' untuk mereka tanpa bayaran. Saya rasa, kebahagiaan yang saya terima dari kebersamaan dengan mereka adalah bayaran yang jauh lebih dari cukup. Boro-boro merasa rugi, saya malah bersyukur dan banyak belajar dari mereka. Misalnya mengenai kemandirian dan 'keras'nya hidup ini. Saya yang tidak perlu panas-panas atau bahkan hujan-hujan demi rupiah, masih sering kurang bersyukur. Sedangkan mereka, anak-anak kecil, harus panas-panas dan hujan-hujan lebih dahulu untuk mendapat uang agar mereka bisa makan dan diizinkan untuk belajar bersama kami, masih bisa tersenyum tulus dan tertawa lepas.

Mereka ini ga jarang loh belajar sambil membawa barang dagangan mereka. Bahkan di daerah belajar yang lain, ada anak yang dapat mulai belajar jika barang jualannya telah terjual habis. Rasanya itu yaaa Masyaallah, kasihan sekali :(. Bahkan ada yang ga pakai sandal. Suatu saat, saat murid les privat saya melihat foto beberapa adek-adek Save Street Child Surabaya ini



bertanya, "Loh, Bu, ini kok ga pake sandal?". Disinilah kesempatan saya mengajarkan murid saya itu untuk bersyukur karena mereka dapat bersekolah di sekolah yang sangat baik, bisa les apapun bahkan dengan mendatangkan guru ke rumah, dapat makan apapun dan kapanpun tanpa harus berjualan terlebih dahulu, liburan bahkan bisa sampai ke luar negeri, dan atas kemewahan lain yang mereka dapatkan. Cara bersyukurnya, 'cukup' dengan belajar yang rajin dan berprestasi. Sekarang, murid saya itu cukup sering bertanya, "Ibu habis ini mau baksos?" setelah saya mengajar mereka di sore hari karena mereka tahu saya mengajar di Taman Bungkul pukul 19.00.

Adik-adik, terima kasih karena kalian telah membuat hidupku lebih berwarna, semoga kita masih bisa bertemu dan bersama sampai kapanpun, aamiin :)

Semangatmu 'Menohokku' :)

Hari Minggu tanggal 23 Pebruari lalu, seperti biasa, saya mengajar adik-adik Ambengan Karya yang tergabung di komunitas Save Street Child Surabaya (sebenarnya, jadwal mengajar di Ambengan Karya adalah setiap Hari Minggu dan Senin, tapi saya hanya bisa mengajar Hari Minggu). Seperti biasa, adik-adik begitu bersemangat untuk belajar walaupun waktu belajar saat itu dilakukan saat jam enak-enaknya tidur siang (pukul 14.30). Mereka rela belajar dengan keadaan yang penuh sesak karena memang tempat belajarnya tidak terlalu besar sehingga kurang bisa memberi ruang gerak yang seharusnya diterima siswa yang sedang belajar. Belum lagi, usia dan jenjang pendidikan mereka yang beragam, dari TK sampai SMP kelas 3, ada di sini, sehingga tidak mengherankan jika suasana belajar di sini berisik. Tidak hanya berisik karena sahut-sahutan antara suara pengajar yang satu dengan yang lain, tapi juga suara adik-adik yang masih TK, SD kelas I dan II, bahkan yang sudah kelas besar pun masih ada, yang saling berebut tempat duduk, bertengkar, dan sebagainya.

Diantara sekitar 60 anak yang bersemangat belajar tersebut, ada satu anak perempuan yang membuat saya 'tertohok'. Namanya Linda. Dia baru kelas I SD, tapi semangat belajarnya luar biasa. Dia masih ikut belajar, saat badannya demam. Meskipun saya tidak menggunakan termometer untuk mengukur suhu tubuhnya, saya yakin suhu tubuhnya di atas normal.

Awalnya, saya tidak tahu jika dia demam, tapi dari awal, saya sudah merasa ada yang beda dari Linda yang biasanya. Dipertemuan itu, mata Linda agak merah (mungkin karena saking panasnya suhu tubuhnya). Saya pikir, dia habis nangis, ternyata ga. Waktu saya pegang tangannya, panas sekali.

Linda sangat antusias saat saya menanyakan hari itu dia mau belajar apa. Di daerah pembelajaran Ambengan Karya, pengajar mengikuti kemauan adik-adik dalam menentukan pelajaran yang akan dipelajari/dibahas saat itu. Jika adik-adik membawa tugas dari sekolah, ya mari dikerjakan di sini :). Jadi, sistem pembelajarannya seperti les privat, tidak seperti les secara klasikal di suatu lembaga bimbingan belajar, meski tidak selalu 1 pengajar meng-handle 1 adik (mengingat keterbatasan jumlah pengajar). Pembelajaran di Ambengan Karya ini berbeda dengan pembelajaran di tempat mengajar saya yang lain, yaitu Taman Bungkul. Di Taman Bungkul, para pengajar telah menentukan secara bersama-sama materi apa yang akan diajarkan/diberikan di setiap pertemuan. Biasanya, jadwal pelajaran/kegiatan telah ditentukan untuk kegiatan pembelajaran selama satu bulan kedepan. Meski demikian, pembelajaran di Taman Bungkul tidak berarti tidak dapat membantu/mengizinkan adik-adik yang membawa tugas sekolah. Mereka boleh bertanya/mengerjakan tugas sekolah saat pembelajaran, tapi jika tugas tersebut telah selesai dikerjakannya, dan masih ada waktu untuk belajar sesuai tema/pelajaran yang ditetapkkan, mereka DIMINTA segera mengikuti pembelajaran tersebut, tapi jika waktu belajar telah selesai, mereka dapat pulang atau bermain, seperti yang lain, tanpa mengikuti pembelajaran materi/tema hari itu.

Dan hari itu, Linda ingin belajar matematika karena dia tidak ada tugas dari sekolah dan merasa materi operasi pengurangan matematika kurang dipahaminya. Linda meminta saya membuatkan soal. Saat itu, saya tidak membawa/menyiapkan permainan yang dapat menarik perhatian anak-anak untuk belajar matematika, maka saya hanya membuat sepuluh soal penjumlahan di bukunya. Mengapa 'hanya' sepuluh soal? Karena mengerjakan banyak soal dapat menjenuhkan, terlebih bagi orang yang sakit. Waaah, bisa-bisa trauma duluan deh kalau besok-besok belajar matematika :D.

Sepuluh soal itu dikerjakan oleh Linda dengan benar semua *kaget sekaligus kagum kan. Alasan dia meminta belajar matematika karena kekurangpahamannya. Lah ini sudah benar semua kok masih merasa belum paham. Merasa pahamnya kalau bagaimana?*. Ternyata kesepuluh soal tersebut belum membuatnya puas sehingga dia masih terus meminta saya membuatkan soal hingga hari itu, dia mengerjakkan 30 soal matematika. Dan sebenarnya 30 soal itu masih belum membuatnya puas, tapi karena waktu belajar telah berakhir, maka Linda hanya dapat berkata, "Kak, besok belajar kayak gini lagi lho ya?"

Wiiiiih, keren ya? Dia ga bosan, padahal soalnya cuma ditulis di buku dan ditulis ga pakai bolpoin warna-warna (seperti saya biasa mengajar, agar menarik :)). Dia juga terlihat melupakan sakitnya, two thumbs up deh buat Linda. Saya jadi mikir kalau obat dan bentuk refreshing-nya Linda adalah mengerjakan soal matematika :D.

Saat belajar itu, Linda masih bisa hingga berkali-kali mengingatkan adiknya untuk serius belajar lhooo... *makin salut!*

Disitulah saya merasa disindir oleh anak kecil. Anak kecil, SD kelas I, SAKIT, tapi MASIH BELAJAR di tempat yang ga senyaman di sekolah. Saya apa kabar waktu kuliah? Remaja akhir, sehat, ruang kelas luas, tapi kadang males kuliah -______-.

Memang kita bisa belajar dan mencari role model dari siapapun, termasuk dari anak kecil. Sejak saat itulah, saya berusaha untuk ga malas, meski sekarang sudah lulus kuliah, tapi bukan berarti malas belajar kan? Kan katanya pingin kuliah lagi? *nanya ke diri sendiri :D* Pingin dapet beasiswa pula katanya? *hih, rasain tuh pertanyaannya makin mak jleb-jleb :D*



Sejak saat itu, saya mulai berusaha lebih rajin untuk belajar persiapan kuliah (lagi), belajar pelajaran SD untuk materi mengajar di komunitas Save Street Child Surabaya maupun mengajar les privat, atau untuk hal lainnya, rajin menulis di blog dan mencoba di media lagi, dan/atau ikut lomba menulis lagi, dan rajin beribadah (singkat kata, mau memenuhi janji ini pada diri sendiri).

Pokoknya STOP MALAS! Kalau ngikutin malas ya ga ada habisnya dan ga bisa buat kita jadi lebih baik.

Jumat, 07 Februari 2014

Surat untuk Stiletto Book

Hello stiloooooo, apa kabaaar? Semoga stillo selalu sehat, jadi bisa launch makin banyak buku yang bermanfaat dan bikin banyak perempuan yang makin smart dan sexy :D *kan jargon stillo BE SMART AND SEXY WITH STILETTO BOOK, lihat deh di www.stilettobook.com*.

Dear stillo *ngucapinnya pake gaya romantis, ala-ala cowok yang ngelamar ceweknya :D*, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY THIRD ANNIVERSARY :).



Stillo, maju terus pantang mundur yaaa *seperti mau perang aja yaaa?*. Maksudnya, majulah terus stillo-ku dalam menghasilkan buku-buku tentang perempuan. Sure, buku-bukumu bikin aku merasa lebih nyaman. Misalnya, aku ga worry lagi dengan pilihanku untuk menikah di usia 27 nanti karena aku masih ingin lanjut kuliah dan berkarier, setelah stillo launch novel Geek in High Heels *aku membeli dan membacanya loh stillo*.



Novel itu meyakinkanku bahwa ada ‘orang’ yang tidak menikah diusia awal 20 tahun, selain aku :).

Aku pun juga menjadi mengetahui perjuangan wanita yang sedang hamil lalu mengasuh anak, ditengah kesibukan dan ke-hectic-an wanita tersebut dengan pekerjaannya *bekal banget ini kalau sudah jadi istri* setelah stillo launch buku Don’t Worry to be A Mommy *aku membeli dan membacanya juga loh stillo, aku juga jadi pemenang ketiga dalam book review kontes buku Don’t Worry to be A Mommy, yang stillo adakan*.





Stillo, kamu pun telah membantuku untuk menjadi lebih percaya diri dalam menulis. Menjadi pemenang ketiga dalam book review kontes membuatku merasa bahwa tulisanku tidak terlalu buruk *se-ga-nya begitu menurut stillo :D*. Saat ini, aku masih terus belajar menulis dengan mengikuti kompetisi menulis dan mengirim tulisan ke surat kabar. Ohya, awal Januari 2014, tulisanku juga dimuat di Harian Surya, di kolom citizen reporter.



Dulu, aku ga berani ngirim tulisanku, nulis aja jarang *lebih tepatnya hampir ga pernah :D*, jadi ide-ide atau pemikiran-pemikiranku terhadap sesuatu menguap begitu saja *padahal kalau pemikiran-pemikiranku itu ditulis, sekarang, aku sudah punya lebih banyak prestasi di bidang tulis-menulis *pede amat**, karena aku dulu ga yakin kalau ada orang yang akan ‘melihat’ tulisanku. Tapi, yang lalu biarlah berlalu, sejak beberapa bulan lalu, aku mulai meluangkan waktuku untuk menulis karena aku tidak ingin hilang dalam masyarakat dan sejarah, seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah -menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Saat ini, yang terpenting adalah mencoba menulis dengan usaha terbaik kita, entah hanya untuk menghibur dan pengisi waktu luang banyak orang di luar sana dan diri sendiri *menulis itu menyenangkan loooh, salah satunya sebagai penyalur perasaan dan isi hati kita #ehhjadicurhat, atau untuk mencoba memberi alternatif pemikiran kita terhadap isu-isu saat ini *bahasanya mulai berat deh ini ya? :P*. Mengenai diterima/ditolak oleh orang lain, urusan belakang. Bukankah jika kita telah memberikan usaha terbaik kita, dan ikhlas dalam menulis, kita bisa menerima apapun hasil dari usaha kita tersebut? :)

Stillo, terima kasih banyak yaaa, meski aku belum pernah ke tempat stillo, tapi aku ngerasa deket sama stillo, karena stillo bisa ditemukan di banyak tempat. Ke mall aja, bisa ketemu stillo di Gramedia :D. Stillo juga membantuku untuk terus menulis walaupun sudah suntuk karena stillo tiba-tiba muncul dan memberi solusi menghadapi writer’s block *ahh, stillo pengertian, sini-sini peluk dulu dari jauh :**.

Stillo, aku sebenarnya pengen loh bisa jadi salah satu penulis di tempatmu. Tapi, sepertinya tidak dalam waktu dekat karena aku ketinggalan informasi mengenai seleksi untuk kontributor di Cup of Tea Cinta Buta T.T. Padahal setelah tahu kalau para kontributor serial ‘Cup of Tea” adalah hasil seleksi, aku berharap bisa ikut seleksinya. Mungkin, dikesempatan lain yaaa, bahkan kalau bisa dengan menjadi penulis buku tunggal *ga keroyokan kayak di serial “Cup of Tea” :D*, aamiin.

Okeee stillo, sudahan ya suratnya, kapan-kapan disambung lagi :).

Best regards,

Anugrah Rahmayani
anugrah_rahmayani@yahoo.com


NB:
Ini beberapa fotoku dengan beberapa Stiletto Book *kalau agak banyak fotonya ya dimaklumi yaaaa, soalnya suka foto :D*

Aku dan Buku "Geek in High Heels" karya Octaviani Nur Hasanah (Octa N. H.) *The Most My Favourite Book, soalnya tokoh utamanya sepemikiran denganku :D* :)



Aku dan Buku "Don't Worry to be A Mommy" karya dr. Meta Hanindita :)



Ini buku-buku Stiletto ku (meski belum lengkap, tapi lumayanlah ya :D). Mana punyamu bloggyyyyy? ;)