Minggu, 13 April 2014

FIRST DAY: Ten Reasons I LOVE MY JOB

Hello bloggy! :)

Sesuai janji, saya yang mengikuti "TEN DAY BLOG CHALLENGE", memulai mengikuti tantangan tersebut pada hari ini. And here I am :)

Mengapa saya mencintai pekerjaan saya saat ini?

Terlebih dahulu, saya akan menyampaikan pekerjaan saya. Saya adalah seorang guru les privat bagi siswa-siwi SD dan playgroup. Murid saya ada 5 orang: 2 orang kelas VI SD, 1 orang kelas V SD, 1 orang kelas I SD, dan 1 orang playgroup B. Mengajar playgroup ini masih dalam tahap uji coba karena seingat saya, saya tidak pernah bermimpi/membayangkan mengajar playgroup. Kalau punya playgroup (sebenarnya TK), saya pernah membayangkan dan memimpikannya. Sampai sekarang pun, saya masih memimpikan memiliki sekolah dari tingkat TK (sekarang jadi kepingin punya sekolah dari tingkat playgroup deh, tingkat paling dasar :)) hingga tingkat SMA. Dimana, sekolah tersebut saya terbuka lebar bagi para golongan menengah ke bawah. Saya ingin sekali memiliki sekolah yang tidak berorientasi pada keuntungan/profit. Saya mendirikan sekolah tersebut, semata-mata untuk membantu siapapun untuk dapat mengenyam pendidikan dengan layak, (baik fasilitas maupun metode pengajaran yang memanusiakan mereka), tanpa dibebani biaya yang dapat menyebabkannya putus sekolah. Saya hanya membutuhkan semangat tinggi mereka untuk belajar, untuk memutus rantai kebodohan dalam keluarganya, untuk membuatnya berpikiran maju sehingga dapat mengangkat derajat keluarganya dan negaranya :) *serius amat yak? :) Surely, that's in my mind :) Saya ingin semua anak di Indonesia mendapatkan itu, saya teramat sangat tidak sampai hati melihat mereka bekerja meski upah rendah, mereka tetap terpaksa memutuskan sekolahnya demi mereka bisa bertahan hidup di esok hari. Bahkan rasanya, saya rela menghidupi keluarga mereka, asal dia mau belajar. Jadi, 'cukuplah kamu belajar dengan baik, Nak, saya akan menanggung ekonomi keluargamu, sehingga kamu tidak perlu memikirkan bagaimana besok kamu dapat bertahan hidup'*.

Oke, kembali ke topik semula yaaa *teteup masih ngobrol ngalur-ngidul kalau nge-blog :D*. Mengapa saya mencintai pekerjaan saya menjadi guru les privat? *menjadi volunteer pengajar Save Street Child Surabaya, boleh dimasukkan sebagai pekerjaan saya kan? :)*

1. Mengajar itu Menyenangkan

Bagi saya, mengajar itu penuh dengan seni. Seni dalam memahamkan mereka. Bersama mereka, saya juga merasa sebagai sahabat/teman curhat mereka. Bahkan kadang juga tempat curhat orang tua atau ART nya lhooo :). Menyenangkan sekali saat hubungan tidak lagi sebatas guru/tutor dan murid, tapi serasa diajak masuk menjadi bagian dari keluarga mereka, misalnya dengan dipercayanya sebagai teman untuk mendengar (dan akhirnya membuat saya belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Karena menurut teman-teman saya, saya selalu memotong pembicaraan, jika ditengah obrolan, ada hal yang muncul dipikiran saya. Kata mereka, saya selalu bersemangat hingga akhirnya merusak kenyamanan obrolan. Sekarang, ga mungkin kan saya memotong pembicaraan meski ada sesuatu yang muncul di pikiran saya? setidaknya, saya dapat menyampaikan pikiran saya yang muncul tersebut setelah mereka selesai berbicara *bener-bener belajar ini, nahan buat ga nyelat itu susah! (tapi patut dicoba dan dilatih :))*).

2. Mengajar Membuat Saya Mengingat Berbagai Hal tentang Indonesia

Ternyata sistem pemerintahan Indonesia telah dikupas habis di pelajaran PKN kelas IV SD lho. Saya yang ga ngerti tentang pemerintahan Indonesia, yang meliputi MPR, DPR, DPD, daaaaaan teman-temannya itu, jadi terpaksa belajar (dan tetep masih ga bener-bener paham, hahaha :D, mungkin karena saya memang terlanjur ilfil dengan pemerintahan Indonesia yang selalu mbulet dan sudah mainstream banget sama korupsi, ya meskipun ga semuanya).

Tapi ternyata, belajar tentang sistem pemerintah pusat membuat saya berusaha semampu saya mewujudkan Indonesia yang lebih baik, agar Indonesia bisa sekeren negara-negara lain yang telah maju terlebih dahulu. Biarlah sistem pemerintahan Indonesia yang mbulet itu, menjadi urusan mahasiswa Ilmu Politik, dan serumpunnya, saya mau membantu orang-orang pemerintahan yang serius berusaha memajukan daerahnya. Misalnya, yang serius ingin 'mengangkat' kehidupan anak jalanan :).

3. Mengajar Membuat Saya Mengingat Berbagai Hal tentang Alam

Saya rasanya sudah lupa bahwa saya hidup di negara yang kata traveller surganya dunia. Alamnya luar biasa indah, potensi sumber daya alamnya sangat luar biasa, dan hal keluarbiasaan penampakan alam Indonesia. Mengapa saya bisa lupa? Karena saya bukan anak pecinta alam, yang suka ndaki-ndaki gunung, dan aksi lain untuk membuktikan kata-kata wisatawan dan traveller. Selain itu, rasanya acara jalan-jalan di televisi Indonesia cuma ada di weekend. Lha apa ga useless itu ngasih rekomendasi liburan di weekend? Menurut saya, sebaiknya di weekdays sehingga saat weekend, kita sudah reservasi dan siap berangkat untuk membuktikan rekomendasi acara TV itu, bisa diulang ga :).

Acara TV di Indonesia saat weekdays kebanyakan mbahas kriminal, politik, demo, dan hal negatif dan menjemukan lainnya. Jadi rasanya, saya sudah agak lupa kalau Indonesia sungguh indah dan surga dunia :).

Buat pengunjung blog saya, yang mungkin seorang dari pertelevisian, bolehkah saya usul? Bagaimana kalau untuk meningkatkan rating acara stasiun televisi Anda, Anda lebih cerdas menayangkan acara? yang membawa dampak positif dan harapan untuk kemajuan Indonesia gitu lhooo, masa ikut-ikutan/lomba mbahas-mbahas keburukan negeri ini. Indonesia itu sebenernya keburukannya cuma sedikit lho (setidaknya masih buanyaaaaak hal positif/kelebihan yang bisa diangkat dan menimbulkan keyakinan pada masyarakat Indonesia bahwa Indonesiaku luar biasa dan aku bangga menjadi warga negara Indonesia!) :).

4. Mengajar Mereka Membuat Saya Bersyukur

Mengajar anak-anak jalanan di Save Street Child Surabaya, membuat saya bersyukur. Sungguh hidup saya selama ini sangat nyaman. Bisa belajar di sekolah yang bagus dan seharusnya bisa membuuat saya konsentrasi dan berprestasi karena orang tua saya selalu mengatakan 'pokoknya konsentrasi belajar yang tekun, rajin, biar pinter'. Adek-adek yang ga seberuntung saya hanya mendapat kalimat 'pokoknya dapat uang biar bisa makan' dari orang tuanya. Ga tegaaaaaa... Menafkahi keluarga kan tanggung jawab orang tua, anak di bawah umur kan tugansnya belajar dan bermain? :(

Bersama mereka pun menyadarkan saya bahwa bahagia itu tidak perlu mahal. Berbagi kebahagiaan, ilmu, dan rezeki dengan mereka itu sungguh membahagiakan. Dengan bahagia, tubuh menjadi sehat dan terlihat awet muda (karena hati riang gembira).

5. Mengajar Membuat Saya Merasakan Langsung Toleransi Umat Beragama

Toleransi antar umat beragama telah sejak lama saya dapatkan di sekolah. Saya pun juga memiliki tetangga yang bukan Islam dan mereka sangat baik. Tapi, baru kali ini saya merasa 'nyes'. Yaitu, saat murid saya mengingatkan saya untuk shalat. Murid saya ada lima orang -empat nasrani dan seorang muslim. Dari awal, orang tuanya pun telah mengatakan bahwa mereka mempersilahkan saya untuk shalat jika waktu belajar anak-anaknya bersamaan dengan waktu shalat.

Murid-murid saya juga dengan senang menyampaikan/menanyakan apa yang dia pikirkan tentang Islam, termasuk tentang kerudung, yang kata mereka kerudung sekarang aneh-aneh, masa dikasih bunga-bunga dikepala, malah kelihatan seperti sarang lebah kata mereka. Dan masih banyak obrolan-obrolan kami tentang perbedaan agama dan kami masih bisa saling menghargai keyakinan kami masing-masing :).

6. Mengajar Membuat Saya Belajar Menghargai Waktu

Murid saya memang kebanyakan China, dan saya sungguh salut pada manajemen waktu mereka. Bayangkan, satu jam sepulang dari sekolah, dia les. Saya mikir, apa ga jenuh itu otaknya ya? Saya akui, kadang mereka jenuh sehingga meminta saya untuk belajar di halaman rumah. Tapi, ternyata mereka bilang bahwa jika tidak les, mereka merasa ada yang kurang, dan mereka ga keberatan les siang karena sore hingga malam hari, jadwal mengajar saya sudah penuh. Sebenarnya, murid-murid saya tidak ada yang tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah, sehingga menurut saya mereka menjadikan les sebagai life style/gaya hidup.

Merekalah yang mengajarkan saya untuk disiplin waktu dan menggunakan waktu dengan hal-hal positif. Sudah pinter aja masih les... Ini mengena sekali pada saya. Seharusnya, saya dapat memanfaatkan waktu pagi hingga siang hari saya untuk menulis, mencari pekerjaan, atau belajar, belajar apapun, baik tentang psikologi maupun Bahasa Inggris (terutama TOEFL) untuk persiapan program magister.

7. Mengajar Membuat Saya Belajar Kreatif

Mengajar anak-anak kecil tentu membutuhkan 1001 cara untuk dapat menarik perhatian mereka pada pelajaran. Naaah, maka dari itu, saya berusaha membuat perintilan mengajar yang warna-warni. Selama ini, saya sebenarnya tidak memiliki ide baru terhadap mengajar, saya hanya sedikit 'merenovasi' yang telah ada. Saya sangat terbantu dengan portal ruang belajar -Indonesia Mengajar. Terima kasih Yayasan Indonesia Mengajar, semoga suatu saat, saya bisa menjadi bagian dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, aamiin *ehh* :).

8. Mengajar Membuat Saya Belajar Mandiri

Sudah bukan rahasia lagi jika saya seorang yang manja. Tapi, hal itu, sedikit demi sedikit mulai berkurang, saya lebih sedikit mandiri, berani ke tempat baru berbekal google maps dan tanya sana-sini sekeligus keberanian bertanya berkali-kali pada orang-orang jika tersasar :D :D :D.

Saya masih ingat, saat pertama kali mencari alamat murid baru saya saat hujan deraaas angin dan membuat motor saya beberapa kali mogok, basah kuyup pula lah baju saya meski sudah memakai jas hujan, dan saya harus beberapa kali bertanya pada orang hingga akhirnya sampai di rumahnya, DAN TERLAMBAT 30 MENIT!

Biasanya, sebelum saya mengajar dipertemuan pertama, saya telah mencari alamatnya terlebih dahulu sehingga saat pertemuan pertama dan berikutnya, saya tidak terlambat. Tapi ini bedaaa. Saya mendapat murid baru itu pagi agak siang hari dan niat saya, akan menyurvei rumahnya siang hari. Tapi, tiba-tiba orang tua murid saya telepon minta les dimulai 1,5 jam lebih awal, yaitu jam 14.30 *langsung kelabakan karena memberi tahunya sejam sebelum les dimulai 1,5 jam lebih awal (jam 13.30) dan saya masih belum siap-siap*. Tapi alhamdulillah, mereka memaklumi keterlambatan saya, bahkan saya jadi dapat bonus untuk mengelesi adiknya (awalnya, saya hanya mengajar kakaknya, tapi ternyata sang adik merasa cocok dengan saya, maka terpilihlah saya menjadi guru/tutornnya) :D.

Pengalaman ini UNFORGETTABLE banget! :D :D :D

Ohya, saya juga belajar mandiri, dari murid saya yang lain. Dia baru kelas V SD tapi sudah sangat mampu melakukan berbagai pekerjaan rumah, yang saya saja baru bisa melakukannya saat lulus kuliah, misalnya cuci baju manual/ga pakai mesin cuci dan membersihkan kulkas *tapi sampai sekarang saya ga pernah membersihkan kulkas*. Salut buat dia!

9. Mengajar Membuat Saya Menemukan Bakat Terpendam Saya

Mengajar membuat saya merasa bahwa mengajar adalah bakat terpendam saya, hahaha :D. Duluuuuu, waktu masih kecil, saya ingin jadi guru, tapi sampai kuliah saya ga pernah ngajar. Ngajar les privat pun baru saya jalani dari Februari 2014.

Bingung?

Jelas, pertama kali, saya mati gaya, mikir, mau gimana iniii, tapi saya berusaha sok kenal sok deket kemurid saya, dan ternyata dia cocok dengan ngajar saya. Nilai-nilainya naik membaik. Bahkan ibunya, menyampaikan langsung rasa terima kasihnya pada pihak LBB karena telah memilihkan saya sebagai guru/tutor anak-anak mereka. Ibu tersebut juga SMS saya menyampaikan ucapan terima kasihnya. Alhamdulillaaaaah :).


Murid saya juga ga percaya kalau saya sebelumnya belum pernah mengajar. Dia bilang kalau cara mengajar saya enak. Saya juga bersikukuh tetap mengajarinya hingga dia bisa, walaupun waktu les yang hanya 1,5 jam telah berakhir, dan dia suka, karena mereka jadi mau ga mau bener-bener paham agar saya segera meninggalkan rumahnya :D. Saya 'ngotot' karena saya merasa punya tanggung jawab untuk mengajarinya. Masa iya, saya terima uang dari orang tuanya, tapi tanpa ada peningkatan prestasi/nilai akademis? Sama seperti makan gaji buta dong? :D

NB: Poin nomor 9 ini bukan promo lho yaaa :D :D :P

10. Mengajar Mendekatkan Saya pada Kasus Psikologis

Dalam mengajar, tentu saya menemui karakter-karakter unik pada murid saya. Ada yang kalau belajar maunya dibacakan (jadi saya semacam mendongeng pelajaran gitu, untung mereka ga tidur :D) sambil jalan-jalan, muter-muter dalam rumah (karena dia seorang auditori-kinestetik), ada yang takut duluan sebelum ulangan matematika, dan sebagainya.

Sebagai seorang calon psikolog *:D*, saya juga berusaha memberi treatment-treatment yang tepat untuknya. Misalnya, saat les, saya memberi puzzle matematika yang bertuliskan I ❤ MATH dan diakhir les, berkali-kali, saya menyampaikan padanya bahwa matematika sama menyenangkannya dengan Bahasa Inggris (dia menyukai Bahasa Inggris).


Dan alhamdulillah, setelah beberapa kali pertemuan, nilai matematinya berada jauh di atas KKM :).

Tiada yang lebih membahagiakan bagi seorang guru, saat muridnya mencapai beberapa tingkat di atas dari posisi awal dia berada :).

Dengan menemui kasus-kasus psikologis walaupun yang sederhana, saya yakin dapat membantu saya berlatih menjadi psikolog keren suatu saat, psikolog yang dapat membantu sesama dan bermanfaat untuk sesama, aamiin :)


Itulah kesepuluh alasan saya mencintai pekerjaan saya saat ini. Maka, sampai saat membuat posting ini, rasanya beraaat sekali jika suatu saat, saya harus berhenti untuk mengajar, baik mengajar les privat maupun mengajar sebagai volunteer di Save Street Child Surabaya.

Teaching is a part of my soul :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar